Musim Mas bantu petani jalankan budi daya sawit berkelanjutan

Perusahaan kelapa sawit Grup Musim Mas menggelar program pelatihan khusus bagi petani agar mampu mempraktikkan budi daya kelapa sawit yang baik dan benar sehingga terintegrasi dalam rantai pasokan minyak sawit berkelanjutan.

“Program ini membantu petani (kelapa sawit) agar berkembang,” jelas Manager Independent Smallholder Musim Mas, Rudman Simanjuntak di Jakarta, Rabu.

Pelatihan ini dilatarbelakangi adanya sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang menjadi hal penting dalam menjaga standar kualitas produk minyak goreng kelapa.

Program yang telah berjalan beberapa tahun belakangan ini, pada prosesnya tidaklah mudah. Sebab, mengubah pola pikir para petani serta mengajak untuk mematuhi aturan-aturan juga syarat standardisasi RSPO dibutuhkan waktu dan konsistensi.

Lebih lanjut, Rudman memaparkan beberapa syarat agar petani swadaya kelapa sawit dapat bergabung dalam program ini.

“Syaratnya hanya menanam tanaman kelapa sawit, dan berdomisili di wilayah perkebunan, bersedia mengikuti aturan yang akan dalam asosiasi, bersedia mengikuti pelatihan setiap bulan, diskusi dalam bentuk kelompok, KTP atau KK untuk legalitas sertifikasi,” jelasnya

Hingga saat ini, perusahaan Musim Mas telah mendampingi petani swadaya yang tersebar di provinsi Aceh, Kalimantan Barat, Riau dan Palembang dengan total sebaran di 15 kabupaten atau distrik.

Pelatihan ini mencakup praktik pertanian yang baik, meningkatkan produktivitas pertanian, mencegah deforestasi dan memperoleh akses pasar melalui sertifikasi.

Dalam diskusi yang digelar secara hybrid ini, Rumad berharap agar semua stakeholders yang terlibat saling berkolaborasi agar dapat tercipta praktik budi daya sawit yang benar dan berkelanjutan sehingga terlaksana sesuai standar.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu, Sumatera Utara, Syahrianto menyampaikan kendala yang dihadapi dalam pelatihan ini.

“Banyak tantangan yang dihadapi,” ungkapnya

Para petani swadaya mulanya tidak mudah diajak untuk mengikuti pelatihan, namun sebagai sesama petani, ia pun lantas melakukan sejumlah pendekatan seperti rajin bersilaturahim yang bertujuan memberikan pemahaman tentang budidaya kelapa sawit berkelanjutan.

“Petani bisa lebih cepat dan yakin dan percaya apabila kita, sesama petani yang menjelaskan,” ujarnya.

Menurutnya, setelah pelatihan berjalan beberapa tahun dan sudah ada yang bergabung, justru petani swadaya yang rajin bertanya kapan pelatihan akan dilaksanakan.

Syahrianto berharap pemerintah, petani dan swasta dapat berkolaborasi agar minat peserta pelatihan yang terdiri dari petani swadaya ini semakin bertambah.


Baca juga: Petani sawit perlu pahami sertifikasi berkelanjutan adalah multiguna
Baca juga: Pemerintah diminta evaluasi penerapan dana pungutan ekspor sawit
Baca juga: Petani minta penghapusan tarif pungutan ekspor sawit diperpanjang