Mutasi Virus Corona B117 Ditemukan di Indonesia Lebih Berbahayakah?

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Senin 1 Maret 2021 dua kasus mutasi virus corona jenis baru asal Inggris atau B.1.1.7. ditemukan di Indonesia. Mutasi virus corona B.1.1.7 didapatkan dari hasil temuan
dari 462 sampel yang diperiksa.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa mutasi virus ini lebih berbahaya dibanding virus COVID-19 sebelumnya.

“Hingga saat ini, kami belum mendapatkan bukti ilmiah bahwa virus mutasi COVID-19 ini lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus COVID-19 yang awal, namun, dari beberapa penelitian di negara lain menunjukkan varian virus baru ini lebih cepat menular,” kata Nadia dalam keterangannya.

Mutasi terjadi pada bagian tanduk atau spike dari virus yang menyebabkan virus lebih mudah masuk ke sel sasaran sehingga penularannya akan lebih cepat dibanding varian yang lama. Kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit, namun penelitian terkait varian baru ini terus dilakukan.

Di sisi lain Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes, dr. Slamet, MHP,
mengatakan mutasi virus ini lebih menular, dan orang yang terinfeksi varian ini juga dapat menularkan virus dalam jumlah yang lebih besar. Menurut dia karakter dari varian mutasi B117 ini tidak terbukti lebih parah infeksinya.

“Belum ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa varian ini lebih ganas dan menyebabkan sakit yang lebih parah. Virus ini tetap dapat di deteksi dengan swab antigen dan swab PCR,” ujar dr. Slamet

Meski demikian, Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, Nadia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu resah, namun harus tetap waspada.

“Meskipun tingkat keganasan varian baru virus COVID-19 ini belum diketahui, namun dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi, kami mengimbau masyarakat harus lebih waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan harus lebih diperketat, serta mensukseskan program vaksinasi COVID-19,” kata Nadia.

Selain itu, menjelang libur panjang akhir pekan, pihaknya imbau dengan sangat masyarakat untuk menahan diri dan tidak bepergian dulu. Mengingat kata dia setelah libur panjang, umumnya terjadi peningkatan kasus positif COVID-19 dari kluster keluarga.