Nadiem: Kita Punya Berbagai Macam Penjajah di Dalam Negeri

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim membeberkan alasan di balik kesediaannya menjadi menteri pada kabinet kedua Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Menurut Nadiem dirinya melihat banyak persoalan yang tengah dihadapi Indonesia.

Salah satunya soal penjajahan yang masih belum terentaskan. Penjajahan itu bukan berasal dari luar, melainkan dari bangsa Indonesia itu sendiri.

"Kenapa saya menerima tugas Menteri Pendidikan? Ya karena sekarang kita walaupun mungkin tidak dijajah oleh asing, kita punya berbagai macam penjajahan di dalam negeri. Penjajahan mental, penjajahan diskriminasi, sosial-ekonomi, intoleransi dan hal-hal itu yang menurut saya harus kita mitigasi dan harus kita serang mulai dari (generasi) muda," kata Nadiem dalam sebuah acara, Selasa (29/6/2021).

Pasalnya, ia memandang cara tercepat untuk melakukan perubahan ialah lewat anak muda. Yakni mengubah secara permanen karakter dari generasi sebelumnya. Nadiem mengaku ingin menumpas segala bentuk penjajahan itu lewat dunia pendidikan.

"Inilah makanya kenapa seluruh platform pendidikan kita itu berhulu, yaitu dari filsafat Ki Hajar Dewantara dan Bung Karno yaitu Merdeka Belajar," kata Nadiem.

Akui Kagumi Pemikiran Bung Karno

Mantan Bos Gojek Indonesia itu juga mengakui gemar dengan pemikiran Marhaenisme Soekarno. Menurut Nadiem, Marhaenisme berfokus pada upaya-upaya untuk memerdekakan rakyat kecil dari beragam belenggu. Termasuk belenggu-belenggu yang tadi disebutkan.

Lewat pemikiran Bung Karno dan Ki Hajar Dewantara, menurut Nadiem konsepsi Profil Pelajar Pancasila diramu.

"Dan dari sinilah kita bisa kelihatan kenapa kita bilang Pancasila. Di sinilah butir-butir pemikiran dan filsafat Bung Karno keluar," paparnya.

Di dalam 6 Profil Pelajar Pancasila, menurut Nadiem ada yang namanya Kebinekaan Global. Menurutnya supaya pelajar di Indonesia bukan hanya merasa bagian dari Indonesia, tapi juga bagian dari kemanusiaan global. Ada juga profil kemandirian maknanya agar para pelajar dapat berdiri di.atas kaki sendiri.

"Bagaimana mahasiswa dan murid-murid, kita bisa secara mandiri melanjutkan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Secara mandiri bukan hanya bisa bekerja untuk orang, tapi menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.

Konsep gotong royong juga kata Nadiem diilhami dari semangat Bung Karno. Hal ini sejalan dengan kompetensi yang dibutuhkan pada era ini, yakni kemampuan berkolaborasi dan kemampuan bekerja secara tim.

"Jadi itu menjadi Profil Pelajar Pancasila yang terpenting, gotong-royong, kemampuan berkolaborasi dan bekerja dalam tim. Dan itulah yang akan menjadi definisi dari knowledge economy," papar dia.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel