Nadiem Makarim Ingatkan Banyaknya Dampak Negatif Pembelajaran Jarak Jauh

·Bacaan 1 menit
Tanda X dipasang pada setiap meja sebagai pembatas antara tempat duduk siswa di SDN Pekayon Jaya VI, Bekasi, Rabu (24/3/2021). Jam pembelajaran tatap muka di Bekasi juga dibatasi, yakni mulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memutuskan untuk mewajibkan pembukaan pembelajaran secara tatap muka bagi sekolah yang guru dan tenaga kependidikannya telah menjalani vaksinasi secara lengkap. Nadiem menerangkan, keputusan itu diambil mengingat besarnya potensi dampak negatif dari pembelajaran secara jarak jauh.

"Dan berbagai macam pihak, pakar-pakar dunia, seperti Bank Dunia, WHO dan UNICEF semuanya sepakat bahwa penutupan sekolah ini bisa menghilangkan pendapatan hidup di satu generasi, loss of learning ini real dan memang risiko yang dampaknya permanen," tegas Nadiem dalam konferensi pers secara daring, Selasa (30/3/2021).

Menteri kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 itu menyatakan bahwa hal itu bukan hanya menyebabkan dampak negatif pada pembelajaran, melainkan juga pada kesehatan, mental, dan perkembangan anak-anak.

"Dan jangan lupa untuk orang tuanya juga yang sangat sulit mendapatkan kesempatan ekonomi bekerja di luar karena mereka juga harus mengurus anaknya di rumah. Jadi banyak sekali dampak negatif yang ada," urai Nadiem.

Selama pandemi, lanjut Nadiem, dirinya juga melihat tren penurunan dalam dunia pendidikan. Terlebih pendidikan di daerah yang akses dan kualitas pendidikannya masih jauh dari kata ideal.

"Jadinya kesenjangan ekonomi bisa menjadi lebih besar. Kita melihat juga banyak anak dan orangtua yang tidak melihat peranan sekolah dalam proses belajar. Jadi banyak dari anak-anaknya ditarik keluar dari sekolah," terang Nadiem.

Kekerasan Domestik

Belum lagi menyangkut isu kekerasan domestik terhadap anak selama melakukan pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi Covid-19 yang menurut Nadiem kurang teradar.

"Jadi risiko dari sisi bukan hanya pembelajaran, risiko dari masa depan murid itu, dan risiko psikososial atau kesehatan mental dan emosional daripada anak-anak. Ini semuanya sangat rentan," katanya.

Untuk itu pihaknya mengambil tindakan tegas untuk mewajibkan pembukaan pembelajaran secara tatap muka guna menghindari berbagai dampak negatif tersebut.

Saksikan video pilihan di bawah ini: