Nadiem Makarim Sebut 77 persen Dosen Akui Ada Kekerasan Seksual di Kampus

·Bacaan 1 menit
Mendikbud Nadiem Makarim (kiri) saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (16/11/2020). Rapat membahas evaluasi program belajar dari rumah terkait subsidi kuota internet serta isu-isu kesiapan rekrutmen guru honorer tahun 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan, sebanyak 77 persen dosen dari seluruh universitas mengakui kekerasan seksual pernah terjadi di kampus.

Menurut dia, data tersebut diperoleh dari Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek.

"Kita melakukan survei kepada dosen, bukan mahasiswa, kalau mahasiswa mungkin angkanya lebih besar lagi, kita menanyakan dosen-dosen kita, apakah kekerasan seksual pernah terjadi di kampus anda? Dan 77 persen merespons ya, kekerasan seksual pernah terjadi di kampus kita," kata Nadiem Makarim dalam diskusi 'kampus merdeka dari kekerasan seksual', Jumat (12/11/2021).

Dari jumlah tersebut, lanjut dia, ada 63 persen kasus kekerasan seksual yang tidak dilaporkan. Menurutnya, fenomena kekerasan seksual seperti gunung es.

"63 persen dari kasus kasus tersebut tidak dilaporkan kasusnya, jadi kita dalam fenomena gunung es yang kalau kita garuk garuk sedikit saja fenomena kekerasan seksual ini sudah di semua kampus sudah ada situasi ini," jelas Nadiem Makarim.

Alasan Keluarkan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021

Maka dari itu, Nadiem Makarim membuat Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 sebagai cara pencegahan kekerasan seksual di kampus.

Dia ingin negara melindungi dosen dan mahasiswa terlindungi dari tindakan asusila.

"Dan itulah alasannya kita harus mengambil posisi sebagai pemerintah untuk melindungi mahasiswa mahasiswa, dosen dosen dan tenaga pendidik kita dari kekerasan seksual," katanya.

Reporter: Genantan Saputra/Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel