Nadiem Siap Bikin Candi Borobudur Cagar Budaya Kelas Dunia

Ezra Sihite, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melakukan revitalisasi tata kelola Kawasan Candi Borobudur menjadi kawasan cagar budaya berkelas dunia.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim memberikan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan dalam pelindungan Candi Borobudur yang sudah berstatus warisan dunia dari UNESCO itu.

Semangat tersebut kata dia masih harus terus ditingkatkan agar Candi Borobudur betul-betul menjadi cagar budaya kelas dunia. Sejalan dengan pernyataan itu, ia mengungkapkan bahwa untuk mendorong hal tersebut, Kemendikbud akan segera melakukan sejumlah hal. Antara lain revitalisasi tata kelola perlindungan, pengembagan serta pemanfaatan Kawasan Candi Borobudur dalam satu manajemen.

Menurutnya, misi yang akan dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan salah satunya adalah perlu mengembangkan dan menguatkan narasi hebat Candi Borobudur sesuai dengan Outstanding Universal Value (OUV) dan budaya yang melingkupinya. Dengan harapan Kawasan Candi Borobudur menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara apabila berkunjung ke Indonesia selain dari Bali.

“Mari kita jadikan Candi Borobudur sebagai panggung kekayaan budaya dan kebinekaan Indonesia,” kata Nadiem dalam keterangan di Jakarta, Minggu, 14 Maret 2021.

Nadiem Makarim menjelaskan bahwa dalam pengembangan dan pemanfaatan Kawasan Candi Borobudur maka harus memperhatikan unsur-unsur yang dibutuhkan cagar budaya kelas dunia.

“Secara prinsip Kemendikbud mendukung upaya pengembagan, tentu tetap mengacu dan memperhatikan unsur-unsur yang harus dipenuhi sesuai dengan tata cara pelestarian cagar budaya,” ujarnya.

Dengan demikian, beberapa pembangunan yang sedang direncanakan perlu didalami dan disempurnakan agar nilai-nilai yang terkandung di dalam kawasan Candi Borobudur dan budaya luhur yang melingkupinya dapat dipertahankan dan dilindungi sepanjang masa.

Mendikbud mengatakan program Kampus Merdeka dapat mendukung riset ataupun proyek konservasi yang akan dikembangkan dengan melakukan kolaborasi bersama perguruan tinggi yang memiliki mata kuliah jurusan konservasi ataupun sejenis. Namun Mendikbud Nadiem menambahkan agar definisi konservasi diperluas tidak hanya konservasi fisik seperti bebatuan namun juga konservasi budaya secara menyeluruh.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Aspek Pengembangan BKB, Ari Swastikawati menyampaikan di Indonesia belum ada mata kuliah jurusan Pelestarian Cagar Budaya, sehingga menyulitkan pengembangan dan pelindungan cagar budaya.

Ari berharap pada masa mendatang Balai Konservasi Borobudur dapat menjadi pusat konservasi cagar budaya di Indonesia, dan langkah-langkah ke arah tersebut sudah mulai dilakukan dengan menyusun kajiannya.

Sedangkan, tim Kelompok Kerja Warisan Dunia BKB, Yenni Supandi menyampaikan bahwa pembangunan rencana Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur perlu dilakukan sesuai dengan imbauan UNESCO.