Naik 19 Kali Lipat, Investor Saham Syariah Tembus 93.870 di 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kinerja pasar modal syariah terus mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam pasar modal syariah semakin tinggi.

Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury mengatakan, jumlah investor saham syariah hingga tembus 93.870 investor tahun ini. Padahal pada tahun 2015, jumlahnya masih 4.908 investor.

"Jumlah investor penggunaan SOTS atau Sistem Online Trading Syariah berdasarkan data yang kita himpun dari anggota bursa penyedia layanan jumlah investor syariah ini bertambah 19 kali lipat," kata Pahala dalam webinar The Future of Islamic Capital Market: Opportunities, Challenges, and Way Forward, Kamis (15/7/2021).

Di sisi lain, selama 10 tahun terakhir, kinerja pertumbuhan saham syariah mengalami peningkatan hingga 84 persen. Rata-rata, volume transaksi hariannya meningkat sebesar 13,8 persen setiap tahunnya yaitu dari 2,7 miliar lembar di tahun 2011 menjadi 8,97 miliar lembar saham di tahun 2021 Maret lalu.

Kemudian, rata rata nilai transkasi harian saham syariah meningkat sebesar 14,6 persen per tahun, sementara rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat mencapai 31 persen per tahunnya. Nilai kapitalisasi pasarnya juga meningkat sebesar 6,4 persen.

"Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia pada awal tahun ini tentunya memiliki dampak terhadap sektor perekonomian dan juga keuangan secara umum," kata Pahala.

Pasar Modal Syariah Beri Ruang Investasi Makin Luas kepada Masyarakat

Pengunjung mendatangi sebuah stand saat Festival Pasar Modal Syariah 2016 di Bursa Efek Jakrta, Kamis (31/3). Jumlah saham syariah tercatat sebanyak 318 saham atau 61 persen dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia. (Liputan6.com/AnggaYuniar)
Pengunjung mendatangi sebuah stand saat Festival Pasar Modal Syariah 2016 di Bursa Efek Jakrta, Kamis (31/3). Jumlah saham syariah tercatat sebanyak 318 saham atau 61 persen dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia. (Liputan6.com/AnggaYuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai kapitalisasi aset sukuk korporasi dan reksa dana syariah masih rendah. Oleh karena itu, perusahaan diharapkan bisa diversifikasi sumber pendanaan investasi melalui sukuk korporasi dengan fitur inovatif sehingga menarik investor domestik dan asing.

Posisi outstanding sukuk korporasi tercatat senilai Rp 32,54 triliun dengan pangsa pasar 7,44 persen pada Juni 2021. Outstanding nilai reksa dana syariah hanya Rp 39,75 triliun dengan pangsa pasar 7,28 persen.

Oleh karena itu, Sri Mulyani ingin perkembangan kapitalisasi kedua aset itu bisa tumbuh melalui pengembangan pasar modal syariah. Hal ini dengan meningkatkan kedalaman dan likuiditas sektor keuangan syariah.

Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia (BI) terus bekerja sama dan berkomitmen mengembangkan pasar keuangan syariah dan mengupayakan akselerasi kebijakan dan regulasi dalam menciptakan instrumen sehingga pasar modal syariah dapat tumbuh stabil dan berkelanjutan.

"Tentu ini artinya bisa memberikan ruang berinvestasi yang makin luas bagi masyarakat Indonesia," tutur Sri Mulyani dilansir dari Antara, Kamis (15/7/2021).

Sri Mulyani mengatakan, penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara menjadi bentuk komitmen pemerintah untuk mengembangkan pasar modal syariah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel