Naik Lift Sendirian, Amankah dari Virus Corona?

Sumiyati, Sumiyati

VIVA – Bagi orang yang tinggal atau bekerja di gedung-gedung tinggi, naik lift menjadi lebih berisiko pada saat musim corona atau COVID-19 seperti sekarang ini. Bahkan jika kita menghindari naik lift dengan orang lain, apakah kita bisa tertular virus yang orang lain tinggalkan?

"Lift itu rumit. Itu benar-benar tergantung pada lift," kata Linsey Marr, seorang ilmuwan aerosol di Virginia Tech, dilansir Times of India, Rabu 20 Mei 2020. 

Sebagian besar lift tidak cukup besar untuk memungkinkan orang agar tetap terpisah sejauh 6 kaki, sehingga ada kemungkinan orang yang terinfeksi dapat menularkan virus. Terutama jika mereka membuka masker dan batuk, berbicara, atau setelah joging dan masih terengah-engah. 

Richard L. Corsi, dekan teknik dan ilmu komputer di Portland State University dan seorang spesialis dalam kualitas udara dalam ruangan, mempelajari lebih banyak tentang tingkat keamanan lift dengan menciptakan model menggunakan prinsip-prinsip teknik dan mekanika fluida. 

Namun, dia menemukan bahwa dengan adanya berbagai lift dan bangunan, ada ribuan skenario yang memberikan hasil berbeda. Mulai dari berapa ukuran liftnya, seberapa cepat lift bergerak, berapa lama pintu terbuka, yang memungkinkan udara baru bercampur sebelum pintu menutup kembali, dan apakah lift memiliki sistem ventilasi. 

Corsi memutuskan untuk membuat model naik lift hipotetis menggunakan kecepatan lift umum, waktu tutup pintu dan sistem ventilasi. Dalam model ini, penumpang A yang terinfeksi masuk ke lift di lantai satu dan naik lift sendirian selama 31 detik ke lantai 10. 

Selama perjalanan, penumpang ini tidak mengenakan masker, batuk dan berbicara di ponsel, menghembuskan percikan yang mengandung virus. Beberapa percikan jatuh ke bawah, beberapa menempel di sisi lift dan beberapa melayang di udara. 

Lift berhenti di lantai 10, dan pintu terbuka selama 10 detik saat penumpang keluar. Dia membawa beberapa virusnya ketika dia pergi, karena tekanan yang berbeda dari dalam dan luar lift menyebabkan udara berputar dan bercampur, mengencerkan udara lift sekitar setengahnya. 

Pintu tertutup, dan lift langsung kembali ke lantai pertama, tempat penumpang B sedang menunggu. Pintu terbuka dan udara lobi bersirkulasi ke dalam lift, menipiskan udara lift sekitar setengah lagi saat penumpang B yang sehat masuk. 

Berdasarkan model ini, penumpang B terpapar sekitar 25 persen dari partikel virus penumpang A, yang dikeluarkan selama menggunakan lift. Corsi memperingatkan bahwa jumlahnya akan berubah di lift yang berbeda, tergantung pada berapa lama pintu tetap terbuka, sistem ventilasi lift dan tekanan udara yang berbeda di gedung. 

Pertanyaan yang lebih besar adalah, apakah penumpang B akan jatuh sakit setelah terpapar partikel virus yang tersisa selama perjalanan singkat dengan lift? Dalam satu kali batuk, seseorang menghasilkan beberapa ribu bahkan hingga 300 ribu partikel, dan dokter masih belum tahu berapa dosis virus corona yang diperlukan untuk membuat seseorang terjangkit. 

"Tujuan utama dari latihan ini hanya untuk menunjukkan bahwa beberapa tingkat virus dapat bertahan di udara di luar orang yang terinfeksi menggunakan lift. Aku tidak tahu apakah dosis di lift akan cukup tinggi untuk menimbulkan risiko yang signifikan, tapi aku mungkin lebih memilih untuk naik tangga jika memungkinkan," kata Corsi. 

Namun, banyak ahli penyakit menular tidak percaya bahwa partikel yang ada di udara dalam lift kosong menimbulkan risiko terpapar COVID-19. Ilan Schwartz, asisten profesor penyakit menular di University of Alberta mengatakan, bahkan ketika seseorang dengan COVID-19 tinggal dalam jarak dekat dengan anggota rumah lainnya, tingkat infeksi diperkirakan sekitar 10 – 20 persen. Itu jauh lebih menular daripada penyakit yang ditularkan melalui udara seperti campak, yang memiliki tingkat infeksi 70 - 90 persen. 

Meskipun ada kemungkinan percikan virus corona dapat tetap berada di udara lift untuk jangka waktu tertentu, cara penularan utama adalah melalui paparan langsung ke orang yang terinfeksi yang batuk atau bersin di hadapan kamu. 

"Kami tahu ada beberapa partikel kecil yang cenderung tetap di udara, tetapi pada akhirnya epidemiologi tidak mendukung ini menjadi mode penularan yang penting. Mungkin risiko berada di dalam lift lebih terkait dengan menyentuh tombol dibanding berhubungan dengan udara yang dihembuskan dari seseorang yang naik lift sebelumnya," tuturnya. 

Solusi bagi kamu yang harus menggunakan lift adalah dengan mengambil tindakan pencegahan. Pertama, jika memungkinkan, hindari naik lift dengan orang lain dan selalu mengenakan masker di dalam lift, bahkan jika kamu naik lift sendirian, masker akan membantu melindungi kamu dari orang terakhir yang menaiki lift dan akan melindungi orang berikutnya dari kamu. 

Hindari menyentuh wajah setelah menyentuh tombol lift dan cuci tangan sesudahnya. Dan jika kamu harus naik dengan satu atau dua orang lain, jangan masuk kecuali semua orang di dalam mengenakan masker. 

Marr mencatat bahwa kehadiran partikel virus tidak selalu berarti seseorang akan terpapar, tetapi kamu harus tetap mengambil langkah-langkah untuk menghindari risiko tersebut. 

"Viral RNA memberi tahu kita bahwa virus ada di sana, tetapi tidak memberi tahu kita apakah virus itu menular. Jika kami mendeteksi 100 salinan RNA virus, kami pikir mungkin ada sekitar satu virus infeksius. Kami tidak tahu berapa banyak yang diperlukan untuk membuat Anda terpapar, mungkin lebih dari satu. Risikonya rendah, tapi aku akan memakai masker di lift," kata dia.