Naiknya stok China dan 'tapering' diprediksi koreksi harga batu bara

·Bacaan 2 menit

Tim Ekonom PT Bank Mandiri Persero Tbk memperkirakan harga rata-rata batu bara sebesar 104,3 dolar AS per ton pada 2021, namun ada potensi koreksi ke depan dipicu peningkatan stok domestik China dan pengurangan pembelian obligasi (tapering) oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, menuliskan harga batu bara ke depan diperkirakan terkoreksi akibat peningkatan stok domestik di China.

“Kemudian, tapering di Amerika Serikat diprediksikan akan terjadi lebih cepat mulai akhir 2021, yang akan menekan likuiditas dolar AS dan mengurangi efek spekulasi di pasar,” ujarnya.

Andry juga mengatakan bahwa pihaknya juga melihat beberapa risiko yang bisa menganggu kinerja eskpor batu bara di dalam negeri.

Pertama, ketergantungan terhadap permintaan batu bara China, akan membuat kinerja ekspor dalam negeri sangat rentan terhadap kebijakan impor batu bara China.

Kedua, persaingan yang lebih ketat antara batu bara Indonesia dan Australia di pasar ekspor India, karena penetrasi Australia di pasar India lebih intensif.

Adapun, volume ekspor batu bara Indonesia pada Juni 2021 meningkat 14,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, jika dibandingkan secara bulanan (month-to-month/mtm), terjadi sedikit penurunan menjadi 36,7 juta ton pada Juni 2021 dari 37,7 juta ton pada Mei 2021.

Secara kumulatif pada periode Januari hingga Juni 2021, volume ekspor tumbuh sebesar 2,4 persen secara tahunan (yoy) dengan total volume ekspor sebanyak 213,3 juta ton.

Pertumbuhan volume eskpor batu bara Indonesia pada Juni 2021 didorong oleh kinerja ekspor ke China yang tumbuh sebesar 50,7 persen (yoy), atau dengan volume 18,8 juta ton.

Namun, kinerja eskpor ke beberapa negara tujuan utama lainnya menurun seperti ke India terkontraksi -23,8 persen (yoy), Jepang sebesar -45 persen (yoy), dan Korea Selatan sebesar -25,92 persen (yoy).

Hingga Juni 2021, ekspor batu bara Indonesia meraup 59,9 persen pangsa pasar dari impor China, atau meningkat dari Mei 2021 yang sebesar 53,3 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan produksi nasional batu bara sebesar 18,75 persen (yoy) pada Juli 2021. Realisasi produksi di bulan tersebut sebanyak 52,94 juta ton, lebih tinggi dari Juli 2020 sebesar 44,57 juta ton.

Baca juga: PLN fokus beli batu bara pemilik tambang dan kontrak jangka panjang

Baca juga: Tiga BUMN bersinergi amankan pasokan batu bara untuk ketahanan listrik

Baca juga: Stafsus Menteri ESDM: Batu bara bisa dimanfaatkan jadi anoda baterai

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel