Nakes WHO Tolak Lari dari Afghanistan Meski Taliban Berkuasa

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Kabul - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan kerabatnya melarikan diri saat pasukan Taliban menerobos ke ibu kota Kabul. Pilihan berbeda diambil oleh para tenaga kesehatan WHO: mereka memutuskan tetap di Afghanistan.

Para nakes WHO berkata akan terus melayani pasien-pasien, terutama di pandemi COVID-19.

"(WHO) mengimbau semua pihak untuk menghormati dan melindungi warga sipil, para tenaga kesehatan, pasien-pasien, dan fasilitas-fasilitas kesehatan. Pada saat sulit ini, kesejahteraan semua warga sipil, serta keselamatan dan keamanan staf kami adalah hal utama," tulis pernyataan Direktur Regional WHO di Mediterania Timur, Dr. Ahmed Al-Mandhari, dikutip Rabu (18/8/2021).

Sistem kesehatan Afghanistan disebut sudah rapuh, dan berbulan-bulan aksi kekerasan memperparah hal tersebut. Dr. Ahmed berkata persediaan barang-barang esensial mulai berkurang di tengah COVID-19, sementara pasien korban kekerasan juga bertambah.

Pada Juli 2021, ada laporan 13.897 luka-luka akibat kasus kekerasan yang ditangani 70 faskes WHO di Afghanistan.

Selama tiga bulan terakhir, WHO juga memberikan pelatihan kepada nakes. Akan tetapi, WHO mencatat serangan ke fasilitas bertambah. Sejak Januari hingga Juli 2021, ada 26 fasilitas kesehatan dan 31 tenaga kesehatan terdampak. Ada 12 nakes yang meninggal dunia.

Dr. Ahmed lantas mengingatkan pentingnya solidaritas bagi warga Afghanistan.

"Rakyat Afghanistan butuh bantuan dan solidaritas hari ini lebih dari sebelumnya. Hal-hal yang diraih selama 20 tahun terakhir tidak boleh diputar balik," ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kondisi COVID-19 di Afghanistan

Warga Afghanistan berkerumun di landasan bandara Kabul pada 16 Agustus 2021, untuk melarikan diri dari negara itu ketika Taliban menguasai Afghanistan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan mengakui pemberontak telah memenangkan perang 20 tahun. (AFP Photo)
Warga Afghanistan berkerumun di landasan bandara Kabul pada 16 Agustus 2021, untuk melarikan diri dari negara itu ketika Taliban menguasai Afghanistan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan mengakui pemberontak telah memenangkan perang 20 tahun. (AFP Photo)

Berdasarkan data Johns Hopkins University, ada total 152 ribu kasus corona di Afghanistan. Selama 28 hari terakhir, ada 9.261 kasus baru.

Total kematian mencapai 3.288.

Pihak WHO berkata akan terus bekerja bersama mitra-mitranya untuk merespons COVID-19 dengan fokus pada diagnosis, testing, perawatan, hingga vaksinasi.

Namun, selain corona, warga Afghanistan juga disebut mengalami malnutrisi, diare, serta tekanan darah tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Kabul tempat rakyat mengungsi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel