Napak Tilas Perjuangan Rasulullah Lawan Kaum Kafir di Perang Badar

Merdeka.com - Merdeka.com - Jika sedang berada di Madinah, sempatkanlah singgah ke Kota Badar. Karena dahulu, wilayah itu menjadi saksi sejarah kemenangan umat muslim yang dipimpin Rasulullah SAW saat melawan kaum kafir.

Badar adalah sebuat lembah yang terletak antara Kota Makkah dan Madinah. Tepatnya di sebelah barat atau kira-kira 150 kilometer dari Kota Madinah. Bila menggunakan mobil pribadi, butuh waktu 1,5 sampai 2 jam untuk sampai ke lokasi. Konon katanya, dahulu banyak sumur di Badar.

merdeka.com dan tim Media Center Haji (MCH) 2022, berkesempatan napak tilas mengenang perjuangan Rasulullah bersama para syuhada kala itu. Mobil yang kami tumpangi melaju pukul 09 pagi Waktu Arab Saudi. Sepanjang perjalanan, pesona pegunungan batu memanjakan mata. Apalagi, matahari belum terlalu tinggi. Pendar sinarnya mempertegas urat-urat perbukitan dan menambahkan keindahan. Perjalanan kian nyaman karena ruas jalan yang kami lalui sangat lebar dan sepi.

Semakin mendekati Kota Badar, pemandangan pegunungan batu mulai tak terlihat. Berganti bentangan gunung pasir. Dari kejauhan, pegunungan pasir itu menyerupai kilauan emas. Sungguh indah.

Tulisan 'Badar' dengan bahasa Arab dan berukuran besar terletak di atas sebuah perbukitan pasir menyambut. Sekaligus menjadi pertanda kami telah memasuki Kota Badar. Siang itu, Kota Badar terlihat sepi. Tidak terlihat keramaian di pusat kota meski terdapat area pertokoan di sana. Pemandangan serupa juga terlihat di sekitaran rumah penduduk.

Meski kota kecil, Badar cukup tertata. Di salah satu titiknya terdapat alun-alun bertuliskan 'I Love Badr'. Rumput sintetis dan pepohonan baru ditanam menambah suasana hijau alun-alun yang sepertinya baru saja rampung dikerjakan. Tampaknya, Badar yang menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Madinah, sedang berbenah diri. Agar peziarah nyaman tanpa mengesampingkan nilai histori yang dimiliki.

Saya dan rombongan akhirnya tiba di pemakaman syuhada Badar. Di tempat itulah, para syuhada yang wafat dalam peperangan Badar Al Kubra dimakamkan.

"Kita datang ke sini untuk napak tilas perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam memperjuangkan agama Islam. Di sini juga menjadi pembuktian kehebatan pasukan Islam yang bisa mengalahkan pasukan kafir yang lebih banyak dari segi jumlah dan perlengkapan. Namun, berkat pertolongan Allah swt, pasukan Muslim bisa menang," kata salah seorang pembimbing ibadah PPIH Daker Madinah, Rusli, di Badar, beberapa waktu lalu.

Perang Badar sangat penting dalam sejarah Islam. Saking bermaknanya perang ini, sampai diabadikan dalam Alquran Surat Ali-Imran 123-125. Bahkan, Allah SWT menamai secara khusus peperangan yang berlangsung di bulan Ramadan tahun kedua sesudah Hijrah itu sebagai Yaum Al-Furqan alias hari pembeda. Sebab, pada hari itu telah dibedakan mana saja yang hak dan yang batil.

"Berkat doa yang dipanjatkan Rasulullah sepanjang malam, Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan menurunkan 3.000 malaikat untuk membantu Rasulullah dan para syuhada, sehingga kaum muslim meraih kemenangan cepat atas kaum kafir," ujarnya.

Pengamatan di lokasi, area pemakaman sangat luas. Hampir menyerupai luas pemakaman Baqi yang terletak di samping Masjid Nabawi. Area makam dikelilingi pagar tinggi berkelir krem. Mereka yang ingin berziarah hanya bisa berdoa di luar pagar. Masih di lokasi yang sama, juga terdapat sebuah tugu. Pada tugu itu tertulis 14 nama syuhada yang wafat dalam pertempuran besar di Badar.

Pemakaman Badar cukup sering didatangi peziarah. Tidak hanya Indonesia, jemaah dari negara lain juga singgah ke tempat ini.

Masjid Al Arees

Selain pemakaman syuhada, ada beberapa tempat lainnya yang menjadi bagian penting dalam sejarah peperangan Badar kala itu. Salah satunya adalah Masjid Al Arees.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari pemakaman syuhada Badar. Hanya lima menit dan berputar arah, maka akan tiba di masjid yang saat ini sedang proses renovasi. Tampak beberapa alat bangunan dan pekerja ada di sana saat kami berkunjung. Sayangnya, karena proses renovasi, kami tidak bisa melihat area dalam masjid.

Dahulu, kala peperangan Badar sudah di depan mata. Rasulullah tak henti-hentinya berdoa sepanjang malam dan meminta petunjuk kepada Allah di Masjid Al Arees. Allah kemudian menjawab doa Sang Rasul dan kemudian memerintahkan untuk memimpin pasukan muslim dalam perang melawan kaum kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal. Bahkan kala itu, disebutkan pula malaikat akan turun di Jabal Malaikat untuk membantu pasukan Muslim saat perang badar.

Secara kekuatan dan persenjataan, pasukan yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sangat kecil jumlahnya dibandingkan pasukan musuh. Kala itu, kaum muslimin hanya berjumlah 313 orang dilengkapi persenjataan 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, serta 2 ekor kuda. Sementara pasukan Quraisy yang datang dari Makkah memiliki peralatan tempur berlimpah 600 persenjataan lengkap, 700 unta, serta 300 kuda.

Tetapi Rasulullah tak gentar. Amanah Allah SWT yang menunjuk dirinya sebagai panglima perang dijalankan. Dalam peperangan tersebut, umat Islam mengambil posisi yang terdekat dengan sumber air. Rasulullah memilih tempat itu sebagai salah satu bentuk strategi perang.

Peperangan berlangsung sekitar dua jam. Pasukan muslim berhasil membuat kacau pertahanan pasukan Quraisy hingga menyerah. Bahkan pemimpin penting Quraisy yaitu Abu Jahal alias Amr bin Hisyam ikut tewas dalam pertempuran tersebut. Peristiwa luar biasa inilah yang kemudian membuat banyak perang Badar sangat memiliki arti bagi kaum muslimin. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil di dalamnya. Salah satunya, untuk memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah.

Selain Jabal Malaikat dan Masjid Al Arees, keberadaan dua sumur yakni Bier Al Assyifa dan Bier Arrawha turut menjadi saksi penting selama pertempuran berlangsung. Karena dua sumur ini menjadi sumber air kaum muslimin kala itu. Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk menguasai sumber-sumber air. Strategi itu terbukti bisa melemahkan pasukan kaum kafir.

Perjuangan Rasulullah dan kaum muslimin melawan kaum Quraisy, kini menjadi bagian dari sejarah berkembangnya Kota Badar. Meski Badar terus berbenah menjadi lebih modern seiring menjadi lokasi wisata sejarah. Jejak kemenangan umat Muslim saat perang Badar Al Kubra tetap bisa ditemui peziarah dengan di sana. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel