Napi Lapas Tanjung Gusta: Kami bukan Pablo Escobar!

MERDEKA.COM. Narapidana Lapas Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, merasa keberadaan PP Nomor 99 Tahun 2012 telah mengebiri hak mereka. Seolah-olah para warga binaan adalah penjahat yang tak bisa dikurangi masa tahannya.

Salah seorang napi Indra Pane mengatakan, mereka yang terlibat narkoba karena terhimpit oleh kebutuhan hidup. Pasalnya, negara yang seharusnya menjamin hidup warga negara tak pernah hadir, tetapi justru membiarkan warganya tersiksa.

"Kami bukan Pablo Escobar, terlibat narkotika karena kemiskinan. Tukang becak tak punya uang untuk sewa. Semua karena desakan ekonomi," katanya, Sabtu (13/7).

Pablo Escobar adalah seorang raja obat bius dari Kolombia yang paling ditakuti dan paling kuat. Escobar menemui ajal pada 2 Desember 1993, dalam operasi gabungan kepolisian Kolombia dan agen-agen DEA Amerika.

Petugas berhasil melumpuhkan Escobar dengan tiga timah panas bersarang di kaki, belakang telinga dan kepala.

Mardiono, terpidana hukum 10 tahun 1 bulan penjara karena kasus narkoba mengaku sudah menjalani 2/3 hukuman. Namun, pria asli Medan itu tidak bisa bebas karena terganjal aturan di PP tentang Pengetatan Pemberian Remisi, Asimilasi, dan Pembebasan Bersyarat bagi pelaku tindak pidana terorisme, narkotika dan korupsi.

Dia pun merasa semakin alam di Hotel Prodeo. Saat jurnalis masuk ke dalam, para napi yang sedang berada di lapangan meminta waktu untuk berbicara. Lagi-lagi mereka satu suara meminta agar keberadaan PP tersebut ditinjau kembali. "Sebaiknya PP itu dihapus saja," kata Mardiono.

"Kami jangan dihukum dua kali cukup di pengadilan saja. PP 99 mengebiri hak kami, ini penzaliman terhadap hak kami," tambah Indra.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.