Napoleon Mengaku Tolak Permintaan Cek Status Red Notice Djoko Tjandra

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri Irjen Napoleon Bonaparte mengaku tidak pernah menerima permintaan Tommy Sumardi untuk menghapus red notice buronan korupsi cessie bank Bali, Djoko Tjandra.

Napoleon bercerita, dia pertama kali bertemu dengan Tommy Sumardi pada tanggal 2 April. Pada saat itu, kata Napoleon, Tommy mengenalkan dirinya sebagai teman Djoko Tjandra dan datang untuk melihat status red notice Djoko Tjandra. Napoleon pun langsung menolaknya.

"Saya lupa, awal April sekitar tanggal 2. Itu pertama kali saya berkenalan dengan Tomy Sumardi. Dia diantar Brigjen Prasetijo Utomo. Dia bilang, dia temannya Djoko Tjandra. Kalau begitu anda tidak berhak bertanya status red notice," kata Napoleon saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (8/2/2020).

Menurut Napoleon, sesuai peraturan yang tertulis dalam Interpol, yang boleh melihat status red notice hanyalah orang yang bersangkutan itu sendiri ataupun pengacara dan keluarganya.

Akhirnya, Napoleon pun menyuruh Tommy untuk menemuinya kembali dan mengirimkan surat resmi dan pada tanggal 16 April. Tommy kembali menemui Napoleon dan membawa surat secara resmi.

"Dia menemui saya di ruangan saya dengan membawa surat dari istrinya Djoko Tjandra. 9 Lembar surat di paper bag, itu ditandatangani dengan perihal permohonan penghapusan red notice nomor sekian atas nama Djoko Tjandra," kata Napoleon.

"Saya tanya ke Tommy, pertama anda datang ngecek status red notice, sekarang di suratnya anda minta red notice dihapuskan. Itu 2 hal berbeda, kata saya," ujar Napoleon.

Tommy pun kembali mengirimkan surat pada tanggal 28 April. Tujuan suratnya pun masih sama. Napoleon mengatakan, dia tidak bertemu dengan Tommy di hari itu.

"27 April Tommy datang ke saya. Kalau 28 April tidak bertemu, tapi saya tahu dia datang. Dia mengirim surat isinya cerita perjalanan kasusnya. Tapi ujung-ujungnya sama. Dengan perihal meminta penghapusan. Saya lupa penghapusan atau pencabutan," kata Napoleon.

Minta Anggota NCB Tindaklanjuti

Pengusaha Tommy Sumardi, terdakwa perantara suap penghapusan nama Djoko Tjandra dari red notice saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (24/11/2020). Sidang mendengar keterangan saksi, salah satunya Irjen (Pol) Napoleon Bonaparte. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Pengusaha Tommy Sumardi, terdakwa perantara suap penghapusan nama Djoko Tjandra dari red notice saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (24/11/2020). Sidang mendengar keterangan saksi, salah satunya Irjen (Pol) Napoleon Bonaparte. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Napoleon merasa, Tommy tidak mengerti perihal apa yang dia lakukan. Dia pun langsung menggelar rapat internal bersama NCB (National Central Bureau) Interpol untuk membahas surat dari Tommy. Sebab, kata Napoleon, dia dan timnya mengetahui status red notice Djoko Tjandra.

"Setelah Tommy pulang, saya panggil NCB 3 orang. Silakan tindaklanjuti nomor suratnya cek lagi, lapor lagi. Rapat hari itu," kata dia.

"Menurut saya, Tommy tidak ngerti apa yang dia bawa. Tahunya dia, dia hanya bantu temannya yang namanya Djoko Tjandra seperti yang dia sampaikan di awal April," ujarnya.

Sehingga, Napoleon menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima permintaan Tommy untuk mencabut red notice Djoko Tjandra.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka.com