Nasabah Ritel Meningkat, Laba Bersih Mandiri Sekuritas 2020 Naik 45%

Raden Jihad Akbar, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Mandiri Sekuritas mencatatkan pendapatan usaha dan laba bersih yang sangat kuat di tengah masa pandemi COVID-19 pada tahun 2020 lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Silva Halim, mengatakan bahwa pendapatan usaha pada 2020 tercatat sebesar Rp794 miliar. Jumlah itu meningkat 21 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

"Sementara laba bersih pada 2020 tercatat Rp135,4 miliar, atau meningkat 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," kata Silva dalam keterangannya dikutip, Kamis 4 Maret 2021.

Silva menjelaskan, kinerja solid Mandiri Sekuritas ini didorong oleh bisnis global bond melalui perusahaan anak Mandiri Securities Pte. Ltd (Mandiri Securities Singapore), dan bisnis ritel yang pesat.

Baca juga: Siap Jadi Ketum Kadin, Anindya Bakrie Dorong Kemajuan Ekonomi Daerah

Dia menambahkan, pandemi COVID-19 menjadi periode penting di mana Mandiri Sekuritas tetap berusaha untuk semakin intensif melayani para kliennya. Guna membantu mereka mengambil keputusan di masa-masa yang penuh tantangan.

"Pandemi juga telah mengubah cara pandang masyarakat mengenai investasi, yang terlihat dari pertumbuhan jumlah nasabah ritel yang signifikan di tahun 2020 hingga saat ini," ujarnya.

Di awal pandemi COVID-19, IHSG sempat terkoreksi hingga -37 persen ke level terendah 3.937,63. Namun, pasar modal Indonesia kembali membuktikan ketangguhannya dan mampu rebound 61 persen ke level pra pandemi seiring dengan masa pemulihan ekonomi nasional.

Demikian juga dengan pasar obligasi di Indonesia yang mencatatkan kenaikan performa indeks obligasi sebesar 14,5 persen di tahun 2020. Kinerja tersebut diakui Silva telah melampaui kinerja saham maupun deposito.

Berbeda dengan kondisi tiga tahun sebelumnya, pasar obligasi di Indonesia saat ini cenderung lebih stabil karena didominasi oleh investor lokal. Khususnya perbankan yang melakukan investasi hampir Rp400 triliun sepanjang tahun 2020.

“Tren ini didorong oleh likuiditas perbankan yang melimpah akibat permintaan kredit yang turun,” ungkapnya.

Sampai dengan Februari 2021, perbankan kembali mencatatkan net buy obligasi Pemerintah terbesar mencapai Rp80,5 triliun secara year-to-date. Disusul oleh investor ritel yang tercatat membeli obligasi Pemerintah sebesar Rp36,3 triliun.

"Kami bersama pemegang saham melakukan tinjauan bisnis untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri," ujarnya.