Nasi Bungkus Buatan Istri Antar Mayor Kopassus Tantang Maut

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tak banyak orang mengetahui siapa saja prajurit TNI yang mempertaruhkan namanya di Operasi Seroja, Timor-Timur. Sejumlah prajurit dari satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), banyak yang gugur dalam pertempuran di Bumi Lorosae.

Dalam pantauan VIVA Militer di akun Youtobe Beny Adrian, seorang Purnawirawan Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat, mengisahkan pengalamannya bertugas dalam pertempuran di Timor-Timur.

Sosok pensiunan Perwira TNI itu adalah Mayor TNI (Purn.) Hermintoyo. Pria yang akrab disapa Hermin itu, adalah anggota Grup 1 Kopassus saat Operasi Seroja dimulai. Meski usianya sudah hampir 75 tahun, ingatan Hermin masih sangat tajam tentang detik-detik ia memulai tugas di Timor-Timur.

Hermin ingat, saat itu Tim Nanggala 5 dipimpin oleh Letkol Inf. Soegito. Soegito adalah sosok yang kelak menjadi Panglima Koando Daerah Militer (Pangdam) Jaya/Jayakarta, dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

"Jadi kita dapat perintah untuk tugas ke Timor-Timur tergabung dalam Tim Nanggala 5, komandannya Letnan Kolonel Sugito, merangkap Dan Grup 1 juga," ucap Soegito.

Sebuah momen mengharukan pernah dirasakan saat Soegito, sesaat sebelum ia dan pasukannya terbang menuju Timor-Timur. Hermin mengaku, ia menyiapkan segala perlengkapannya di luar barak. Sementara, rekan-rekannya mengemasi perlengkapan di dalam barak.

Diakui Hermin, ada ketakutan yang menggelayuti perasaan dan pikirannya. Hermin tahu, ada beberapa rekannya di dua tim khusus Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), nama Kopassus saat itu, banyak yang gugur.

Namun demikian, Hermin sadar akan tugasnya sebagai prajurit Para Komand,o yang harus menganggap tugas adalah sebuah kehormatan. Hermin memastikan bahwa ia siap mati dalam tugasnya.

"Persiapan terjun di Dili tanggal 6 (Desember 1975). Kita persiapan pagi-pagi selesai apel, payung yang kita taruh di gudang, radio juga saya persiapkan, tapi saya menyendiri. Yang lain-lain menyiapkan di dalam barak, saya di luar barak," kata Soegito.

"Ya, untuk menenangkan diri. Karena apa, kawan-kawan yang melaksanakan tugas seperti Tim Umi, Tim Susi. banyak yang gugur di sana. Saya sudah persiapan, bahwa saya sudah siap mati," ujarnya.

Para prajurit Kopassus termasuk Hermin saat itu, sempat melakukan pembacaan doa menjelang berangkat. Namun alangkah terkejutnya Hermin, ternyata sang istri sudah ada di belakangnya.

Istri Hermin mengantar sang suami untuk berangkat menunaikan tugas negara. Saat itu, Hermin sempat makan siang usai dibawakan nasi bungkus oleh sang istri. Hermin pun ingat, ia sempat melemparkan uang 5.000 Rupiah kepada istrinya dari atas truk sebelum berangkat.

Hal itu Hermin lakukan, karena merasa ada kemungkinan bahwa tugas ke Timor-Timur akan membawanya menemui ajal. Saat truk semakin menjauh, Hermin hanya bisa melihat istrinya memungut uang yang dilemparkannya tadi.

"Sesudah itu, kita dibagi doa oleh rohis kita, Kapten Nu'man Mursidi. Kita baca, ternyata istri saya sudah di belakang saya. Saya dikirim nasi bungkus, saya makan dia ngeliatin aja. Setelah itu kurang lebih setengah 12 siang kita sudah naik truk untuk berangkat ke Halim," ucap Hermin lagi.

"Istri saya itu lari ke tanggul, saya lihat saya punya uang 5 ribu. Karena saya mungkin akan mati, uang 5 ribu itu ke jalan. Terus dia ambil," katanya.

Ternyata, Hermin pada akhirnya berhasil menjalankan tugasnya dan kembali dalam keadaan hidup. Hermin adalah rekan satu perjuangan beberapa tokoh besar seperti Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Letjen TNI (Purn.) Sutiyoso, dan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Agum Gumelar.