Nasib Angelina di DPR Tunggu Keputusan Anas

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie mendesak Angelina Sondakh dipecat sebagai anggota DPR.

Angie divonis 4 tahun 6 bulan penjara, oleh majelis hakim Tipikor Jakarta, lantaran terbukti menerima suap sebesar Rp 2,5 miliar dan 1,2 juta dolar Amerika Serikat (AS), terkait penganggaran di Kemendiknas.

"Kami minta dipecat dari Dewan, setelah inkraht (keputusan hukum tetap) dipecat dari partai," kata Marzuki di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Marzuki memaparkan, langkah pembersihan Demokrat sudah jelas. Bila kader didakwa, dituntut, dipidana, dan divonis, maka ia sudah harus menerima sanksi.

"Walaupun belum inkraht, ini kan politik. Politik beda dengan domain hukum. Jadi, tentu harus kami pertimbangkan juga," tutur Marzuki.

Ketua DPR memaparkan, pihaknya menunggu keputusan dari Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), selaku Ketua Umum serta Sekjen, untuk memroses status Angie.

"Tunggu Mas Anas sama Sekjen, nanti dari fraksi yang menyampaikan ke pimpinan," ungkapnya.

Marzuki menjelaskan, sanksi politik berbeda dengan sanksi hukum. Menurutnya, semua pihak harus mempertimbangkan asas praduga tidak bersalah. Sehingga, bila belum ada keputusan hukum tetap, maka Demokrat tidak bisa mengeluarkan Angelina dari DPR.

"Tapi, persoalannya masyarakat ingin sesuatu yang kongkrit. Kalau sudah terlibat, sudah diadili, ya sudah. Makanya kami tanda tangani pakta integritas. Sanksinya jelas, tersangka saja sudah mengundurkan diri, kalau tidak mau mundur berarti dimundurkan. Kan jelas langkah-langkah pembersihan kami," papar Marzuki.

Marzuki menerangkan, pemecatan Angie tetap menunggu keputusan hukum berkekuatan tetap. Demokrat tetap menjunjung asas praduga tidak bersalah. Namun, sebagai anggota DPR, Marzuki mengatakan hal itu menyangkut uang negara.

"Walaupun sudah dipotong dan hanya menerima gaji pokok, ini kan uang negara. Sekecil apapun uang negara, dia enggak kerja, makanya sudah lah. Kami memberhentikan  itu lebih baik," cetusnya. (*)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.