Nasib Brigadir RR, Kawal Istri Sambo Berujung Tersangka Pembunuhan Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Bripka Ricky Rizal menjadi salah satu tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J. Kuasa Hukum Ricky, Erman Umar, menyebut andai Bripka RR tidak ikut dalam perjalanan 8 Juli lalu ke Jakarta, kliennya tidak menjadi tersangka.

Di tanggal itu, rombongan Putri Candrawathi, istri Sambo, memang kembali dari Magelang menuju Jakarta. Keberangkatan Putri ke Magelang untuk melihat anak mereka. Turut dalam keberangkatan bersama Putri adalah Kuat Ma'ruf, Bharada E dan Brigadir J.

Erman menceritakan. Hari itu, Putri meminta pada RR untuk ikut mengantar ke Jakarta dengan alasan kurang sehat. RR pada dasarnya tidak ingin karena memang selama ini menetap di Magelang untuk mengurus anak Putri dan Sambo yang sekolah di sana.

"Karena dia ADC-nya atau ajudannya diperuntukan untuk itu. Jadi bukan mendampingi Pak Sambo di Jakarta atau di apa," tuturKuasa Hukum Bripka Ricky Rizal, Erman Umar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (13/9/2022).

Tetapi karena Putri meminta, dia akhirnya ikut mendampingi sampai ke Jakarta.

"Iya khusus di Magelang, untuk mengurus anak dari Sambo. Karena dua anaknya di sana. Karena saya kurang sehat kata Ibu, tolong kamu bantu antarkan. Sebenarnya cukup kan satu mobil, kira-kira itu. Atau dia nggak perlu berangkat karena dia tugasnya di sana," jelas dia.

Sesampainya di Jakarta, Bripka Ricky Rizal malah diminta menembak Brigadir J oleh Ferdy Sambo. Keduanya bertemu di lantai tiga rumah pribadi Sambo di Jl Saguling III. Tapi dia menolak karena tak kuat mental.

Kemudian, Ricky diajak ke rumah dinas. Kala itu, dia tidak berpikir akan terjadi sesuati di sana. Pikirannya, hanya untuk isolasi mandiri setelah pulang dari luar kota dan melakukan tes PCR di rumah pribadi Sambo. Hal itu memang biasa dilakukan ketika perjalanan jauh.

Tetapi tak disangka, kata Erman, terjadilah penembakan Brigadir J di sana. Bripka Ricky pun turut menjadi tersangka bersama empat orang lainnya. Dia dikenakan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

"Karena memang kebiasaan kalau pulang dari luar kota mereka PCR di Saguling, isolasinya menunggu hasilnya di Duren Tiga," jelas Erman.

Reporter: Nanda Perdana Putra

Sumber: Liputan6.com [lia]