Kisah Tragis Jenderal Botak 940 Hari Usai Duet Paspampres TNI

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 4 menit

VIVA – Sebuah peristiwa bersejarah terulang kembali. Setelah 40 tahun akhirnya ada Raja Arab Saudi yang menginjakkan kakinya ke Indonesia. Dia adalah King Salman Bin Abdulaziz Al-Saud.

Sebelumnya raja Arab Saudi yang berkunjung ke Nusantara ialah King Faisal Bin Abdulaziz Al-Saud. Raja Faisal datang pada tahun 1970.

Mungkin semua pembaca setia sudah tahu ya, tentang apa saja peristiwa yang terjadi selama kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada Februari 2017 itu.

Di edisi kali ini, Kamis 4 Maret 2021, VIVA Militer tak akan mengupas dalam-dalam soal kegiatan sang raja. Tapi akan fokus pada sosok Abdul Aziz Al-Fagham, prajurit pasukan khusus militer Kerajaan Arab Saudi, yang dipercaya menjadi pengawal pribadi Raja Salman.

Untuk diketahui, jenderal yang dikenal di dunia dengan ciri kepalanya yang botak plontos itu, juga baru pertama kali datang ke Indonesia. Baik secara pribadi maupun sebagai pengawal pribadi raja.

Walau baru pertama kali ke Indonesia, Al-Fagham yang saat ini masih berpangkat Brigadir Jenderal, terlihat tak kikuk untuk duet bersama prajurit-prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menjalankan tugas pengamanan VVIP.

Terbukti duet Al-Fagham dan pasukannya dengan prajurit TNI dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) berhasil dengan sukses. Tak ada gangguan keamanan yang terjadi saat Al-Fagham dan pasukan Paspampres TNI menjaga nyawa Raja Salman dan Presiden RI, Joko Widodo.

Sejak mendarat di Indonesia pada 1 Maret 2017, Al-Fagham tak cuma duet bareng Paspampres TNI ketika Raja Salman berjumpa Jokowi saja. Tapi juga di berbagai kegiatan Raja Salman selama kunjungan.

Di Gedung DPR RI misalnya, Al-Fagham dan Paspampres TNI saling menopang untuk menjaga keselamatan Raja Salman ketika datang untuk berpidato di hadapan para wakil-wakil rakyat. Padahal, kondisi di gedung DPR tak kondusif seperti saat Raja Salman bertemu Jokowi. Sebab, gedung DPR saat itu cukup padat.

Sampai-sampai area yang disiapkan untuk Raja Salman menuju podium tak lagi steril. Orang-orang yang ada di gedung itu, dengan semaunya menerobos masuk area lintasan.

Bahkan dengan seenaknya pula mencegat Raja Salman untuk berselfie. Tapi berkat duet hebat pasukan Al-Fagham dengan Paspampres TNI, Raja Salman dapat masuk dan keluar dari gedung DPR dengan aman tanpa gangguan apapun.

Tapi tak disangka momen duet Al-Fagham dengan TNI dalam pengamanan VVIP kunjungan kenegaraan di Indonesia itu merupakan yang terakhir kalinya. Dan dipastikan tak akan bisa terulang lagi. Mau tahu kenapa?.

Sebab, 940 hari setelah duet tersebut, Al-Fagham menghadap yang kuasa. Dia meninggal dunia dengan cara yang sangat-sangat tragis dan hampir sulit dipercaya.

Bagaimana tidak, pada 28 September 2019, pihak keamanan Kerajaan Arab Saudi mengabarkan bahwa pengawal berbadan besar itu tewas akibat ditembak temannya sendiri di Distrik Al-Shatee di Kota Jeddah.

Jadi ceritanya begini, saat itu Al-Fagham yang sudah berpangkat Mayor Jenderal sedang main ke rumah temannya Turki as-Sabti. Tiba-tiba seorang pria bernama Mamdouh bin Meshaal Al-Ali masuk ke dalam rumah itu. Namun entah kenapa, terjadi keributan, kepolisian Arab menyebut terjadi cek-cok mulut antara Al-Fagham dengan Ali.

Kemudian Ali pergi keluar, tak berapa lama dia datang lagi. Dia membawa pistol dan menembaki Al-Fagham secara brutal. Tak cuma Al-Fagham yang ditembak Ali, tapi juga Turki dan seorang lainnya yang ada dalam rumah.

Al-Fagham terluka parah akibat serangan itu. Dia dilarikan ke rumah sakit, sayangnya nyawa tak tertolong karena luka tembakan yang ada di tubuhnya sangat parah. Sementara itu, Ali tewas ditembak polisi karena tak mau menyerah ketika akan ditangkap usai menembaki Mayjen Al-Fagham.

Bagi masyarakat Arab, Mayjen Al-Fagham dianggap sebagai malaikat. Karena pengabdiannya yang luar biasa pada keluarga kerajaan. Kematiannya menciptakan duka mendalam yang tak terbendung.

Mayjen Al-Fagham bukan tentara sembarangan. Pria kelahiran 1971 ini, merupakan jebolan King Khaled Military College 1991. Setelah itu, dia diangkat untuk bergabung dengan pasukan khusus Pengawal Nasional Saudi.

Setelah beberapa lama di pasukan khusus, Mayjen Al-Faghm bergabung dengan pasukan pengawal kerajaan. Saat itu dia juga dipercaya menjadi asisten Raja Abdullah dalam urusan kenegaraan, selain itu dia juga dipercaya menjadi bodyguard Raja Abdullah meneruskan tugas ayahnya, Jenderal Badah bin Abdullah Al-Fagham yang sudah 30 tahun mengawal Raja Abdullah.

10 tahun kemudian tepatnya pada 23 Januari 2015, Raja Abdullah meninggal dunia, Mayjen Al-Fagham sangat sedih sekali. Namun, atas dedikasinya selama itu, Mayjen Al-Fagham kembali dipercaya untuk menjadi pengawal raja berikutnya, yaitu King Salman.

Reputasi Mayjen Al-Fagham tak diragukan lagi, dia merupakan pemegang medali Order of Bravery, sebuah penghargaan yang diberikan untuk prajurit militer paling hebat di Arab Saudi. Selain itu dia juga memiliki lencana pasukan khusus, lencana pasukan rahasia anti terorisme.

Mayjen Al-Fagham juga mendapatkan lencana pasukan penerjun ketika menjalani pendidikan bersama pasukan elite Amerika Serikat. Dua lencana diraihnya yakni US Navy Master Parachutist jump wings dan US Army Master Parachutist jump wings.

Tak hanya itu saja, dia juga memiliki kemampuan untuk menerbangkan pesawat dan helikopter. Ilmu itu didapatnya setelah mengikuti pendidikan di Saudi Air Force.

Dan Mayjen Al-Fagham memiliki lencananya. Al-Fagham juga memiliki keahlian dalam menjinakkan bom dan bahan peledak lainnya, dia juga mengantongi lencana pasukan penyelam tempur militer Arab Saudi.

Baca: Aslam Ternyata Putra Pembunuh 6 Brimob yang Diterkam Macan Kumbang TNI