Natal di Tengah Pandemi di Jerman: Kembali ke Kesederhanaan

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 5 menit

Natal tahun ini di tengah pandemi corona rasanya ambyar, tidak spesial seperti tahun-tahun kemarin, kalaupun jauh dari keluarga di tanah air, tapi di di Jerman tahun lalu masih bisa berkumpul dengan umat Kristen lainnya, menyanyi bersama-sama, ibadah bersama,“ demikian curahan hati Sella Sianturi, gadis asal Medan berusia 20 tahun yang tengah kuliah sambil bekerja di bidang keperawatan di Bonn, Jerman.

Wabah corona menghalangi dirinya untuk mudik dengan leluasa ke kampung halamannya di Sumatera Utara. Sementara di Jerman, yang menerapkan aturan lockdown jilid duakarena wabah pandemi, membatasi pertemuannya dengan kawan-kawannya senasib di Jerman, untuk bisa merayakan Natal bersama-sama.

"Bayangkan saja, saya terbiasa beramai-ramai ketika Natal tiba. Orang tua saya sembilan bersaudara. Kami selalu berkumpul, oh betapa recoknya suasana saat itu, ada yang tertawa-tawa hingga ada yang menangis," kenang Sella. “Hanya hal-hal seperti itu yang dirindukan ketika Natal tiba dan apa boleh buat karena pandemi ini kini hanya bisa di rumah masing-masing, membuat acara ala kadarnya,“ tambah Sella menerima kenyataan dengan pasrah.

Sementara Satya Lestiadi, mahasiswa konstruksi teknik sipil, Koeln, Jerman yang beragama Katolik tak merasa jauh berbeda dalam menjalani Natal di tengah pandemi. “Beberapa tahun terakhir sejka tinggal di Jerman dan melewati Natal di Jerman membuat saya jadi terbiasa saja sebenarnya. Memang yang dirindukan adalah saat mudik mampir ke rumah nenek, atau jalan-jalan bersama sepupu. Yang paling membuat kangen adalah kue buatan ibu! Natal buat saya identik dengan kue kering. Bukan kuenya, maksud saya, tapi waktu disuruh bantu-bantu ibu membuat kue, jadi juri kue mana yang enak, sampai mengantar kue-kue itu ke mana-mana,“ papar mahasiswa yang tinggal di Kota Bonn, Jerman ini.

“Tapi yang menyenangkan, suasana Natal di Jerman memang lebih terasa daripada di Indonesia. Musim dingin, minuman hangat, kadang turun salju, Pasar Natal (Weihnachtsmarkt), dll. Memang Natal adalah kulturuntuk berkumpul dengan keluarga. Berhubung saya sendirian di sini, jadi hampir mustahil. Berkumpul dengan teman terdekat cukup mengobati juga rasanya,“ tambah Satya yang jelang Natal biasanya kadang berkunjung ke Pasar Natal bersama kawan-kawannya. Tingginya infeksi COVID-19 mendorong pemerintah untuk membatalkan ritual Pasar Natal (Weihnachtsmarkt) yang biasanya sejak akhir November sudah marak di kota-kota di Jerman.

Menyikapi dengan positif

Fidelis Waton seorang pastor asal Nusa Tenggara Timur Indonesia yang kini bertugas mengabadikan dirinya di Jerman mengatakan situasi yang luar biasa seeprti pandemi ini perlu diterima dan disikapi dengan positif. Ia menjelaskan: "Kita ditantang untuk belajar sesuatu yang baru. Pada bulan-bulan awal masa pandemi banyak yang syok, perasaan aneh, namun dalam perjalanan waktu, kelihatannya banyak manusia yang makin kreatif, banyak seminar online , orang bisa beribadah secara online, saya melihatnya secara positif,“ meski demikian ia mengingatkan agar masyarakat tetap menaruhan harapan, “Saya memberi catatan bahwa ini adalah situasi darurat, keadaan luar biasa dan bukan situasi permanen,“ tandasnya.

“Banyak orang merasa dikungkung, dipenjara oleh tembok kamarnya, tapi di sana kita juga ditantang apakah bisa kreatif. Ketiksa dalam situasi kreatif maka kita memiliki banyak ide dan hal yang banyak dalam ruangan yang sangat sempit dan toh kita juga bukan dipenjarakan di sana, tetap diberi kesempatan untuk keluar dari kamar, bisa berjalan sendiri tanpa harus bertemu dengan orang yang lain,“ ujar Fidelis seraya mengingatkan jaga jarak dan menghindari kontak fisik merupakan hal yang sangat bijak di masa pandemi.

Ia sendiri merasa kini lebih cepat dalam mengerjakan hal yang menuntut kreativitas: “Contohnya saya dalam situasi pandemi saya sendiri merasa saya bisa mengambil waktu untuk bisa membaca dan menulis, bisa kreatif dalam banyak hal. Ketika mendadak ia diberi tugas dalam waktu yang singkat untuk mmebjat pidato di peringatan Hari Santo Nikolas oleh pimpinannya dengan mengacu pada kehidupan membiara, tugas tersebut dapat terlaksana. “Saya diminta membawakan sambutan atau pidato yang berisi tentang perjalanan hidup di biara kami selama setahun yang dikaitkan dengan Santo Nikolaus dalam bahasa Jerman yang tidak gampang, karena saya ditantang untuk merumuskannya dalam bahasa Jerman yang agak puitis. Namun dalam waktu singkat saya bisa menghasilkan pidato yang sangat bagus ,yang sangat berkesan untuk banyak orang di sini sebagai orang asing dengan bahasa Jerman yang saya rasa tidak gampang,“ demikian ia menceritakan kegiatannya menjelang Natal tiba.

Mengembalikan makna Natal akan kesederhanaan

Dalam bulan-bulan terakhir ini banyak kebaktian atau misa dilakukan lewat online. Hal itu pun menurut Fidelis, harus disikapi dengan pikiran positif: Ddi mana saja dan kapan saja orang bisa beribadah. Ketika orang membutuhkan kebersamaan lewat online dia bisa menyiapkan dirinya untuk bisa berdamai dengan situasi yang ada. Yang paling penting adalah kesiapan batin kita,” tandasnya. Apalagi di masa Natal ini yang mungkin dirasakan banyak orang berbeda dari sebeleumnya. “Natal adalah urusan hati kita dengan Tuhan. Mempersiapkan diri menghadapi Natal di mana pun kita berada dan ini pun menyangkut hubungan individu dengan Tuhan,“ ujar Fidelis.

Pandemi corona kali ini menurutnya juga menjadi bagian dari instropeksi diri. Fidelis mengajak setiap umat beriman yang merayakan Natal untuk melihat makna Natal yang sebenarnya. Selama ini ia kadang melihat umat sibuk berbelanja Natal dan berpakaian bagus untuk perayaan Natal. “Tidak apa, mungkin itu menjadi bagian kemeriahan Natal. Namun perlu diingat, Natal selama ini sangat tergoda oleh bisnis, terjadi natalisasi bisnis. Kita perlu ingat, konsep pemahaman Natal yang asli adalah soal kelahiran Yesus Kristus atau Isa al Masih di tempat yang sederhana. Jadi pandemi ini pun mengingatkan kembali akan pentingnya kesederhanaan,“ tandasnya.

Teknologi yang membantu komunikasi

Meski sedih tak bisa mudik atau pun beramai-ramai berkumpul di Natal tahun ini, Sella Sianturi merasa terbantu oleh teknologi komunikasi yang memungkinkannya bersosialiasasi.“Kita masih bisa untuk bertelepon atau video call beramai-rama apalagi sekarang. Masing-masing bahkan bisa merekam kegiatan-kegiatan mereka dan mengirimkannya sehingga saya pun bisa turut ikut merasakan kesenangan dan kebahagiaan mereka,“ ujar Sella. Keluarga besarnya memutuskan untuk tidak membuat acara keluarga beramai-ramai seperti biasanya untuk mencegah penularan virus COVID-19.

“Makna Natal bagi saya adalah untuk mengingat kembali apa yang telah Tuhan perbuat untuk kita dan biasanya ketika Natal tiba kita berdoa, membaca ayat alkitab dan mendengarkan musik. Ini pula yang akan saya lakukan meski kali ini tak beramai-ramai,“ ujar Sella.

Sementara Satya Lestiadi menganggap Natal punya arti penting baginya untuk kembali berdamai dengan diri sendiri,“ Ini penting sebelum menyambut tahun yang akan datang,“ ungkapnya sambil tersenyum.

Pastor Fidelis Waton mengingatkan tahun 2021 yang pada awalnya pasti tidak akan mudah sehingga jangan sampai putus asa dalam menghadapi situasi yang ada dan tetap berpikir positif: “Di ujung terowongan yang gelap ,di balik masa yang sulit ini pasti akan muncul cahaya, pasti akan muncul kebahagiaan,“ pungkasnya. (ren)