Navigasi YouTube di iOS dan Android Kini Berbasis Gestur

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Google baru saja meluncurkan pembaruan besar-besar untuk aplikasi YouTube di Android dan iOS. Lewat pembaruan ini, tampilan YouTube kini lebih sederhana dan memiliki sejumlah fungsi baru, seperti navigasi berbasis gestur.

Dikutip dari GSM Arena, Rabu (28/10/2020), navigasi berbasis gestur ini membuat tampilan YouTube kian intuitif. Sebab, pengguna cukup menggeser layar ke atas saat tengah memutar video untuk beralih ke mode lanskap dan full-screen.

Sementara untuk kembali ke mode awal, pengguna cukup menggeser layar ke arah bawah. Tombol close caption kini juga dapat langsung diakses lewat menu di video, tidak lagi melalui menu titik tiga yang biasanya ada di pojok kanan video.

Perubahan juga dilakukan pada tombol autoplay di YouTube yang dibuat sejajar dengan tombol close caption, sehingga lebih mudah diakses pengguna. Lalu, fitur Video Chapters yang sebelumnya ada di versi desktop kini hadir untuk versi aplikasi mobile.

Sebagai informasi, fitur ini beberapa bagian dari sebuah video, berikut dengan pratinjaunya. Jadi, pengguna dapat dengan mudah beralih dari bagian ke bagian lain dalam video.

Peningkatan navigasi juga dilakukan untuk mendukung pengalaman menonton video virtual reality di YouTube. Lewat peningkatan ini, pengguna akan diberikan pesan untuk merotasi perangkat apabila video yang ditampilkan merupakan konten virtual reality.

YouTube Bakal Blokir Video Anti Vaksin Covid-19

Kandidat vaksin Sinovac Biotech LTD untuk virus corona Covid-19 diperlihatkan dalam Pameran Internasional China untuk Perdagangan Jasa (CIFTIS) di Beijing pada 6 September 2020. Untuk pertama kalinya, China akhirnya resmi memamerkan produk dalam negeri vaksin COVID-19. (NOEL CELIS/AFP)
Kandidat vaksin Sinovac Biotech LTD untuk virus corona Covid-19 diperlihatkan dalam Pameran Internasional China untuk Perdagangan Jasa (CIFTIS) di Beijing pada 6 September 2020. Untuk pertama kalinya, China akhirnya resmi memamerkan produk dalam negeri vaksin COVID-19. (NOEL CELIS/AFP)

Di sisi lain, YouTube baru saja menegaskan bakal melarang konten yang bertolak belakang dengan pandangan WHO termasuk otoritas kesehatan setempat mengenai vaksin, terutama Covid-19.

Dilansir dari Engadget, Kamis (15/10/2020), YouTube mengatakan akan menghapus video yang menyatakan vaksin Covid-19 dapat membunuh, membuat tidak subur, bahkan menjadi cara pemerintah menanamkan chip di manusia.

Pertanyaan itu diungkapkan oleh layanan Google tersebut melalui unggahan di blog. Sebelumnya, platform ini juga sudah menyingkirkan video yang berisi anggapan bahwa Covid-19 tidak ada.

Lalu pada April lalu, YouTube juga sudah menghapus sejumlah konten yang menghubungkan Covid-19 dengan teknologi jaringan seluler terbaru 5G.

Sejak Februari tahun ini, platform tersebut mengatakan telah menghapus lebih dari 200 ribu video yang berisi informasi menyesatkan atau salah mengenai Covid-19.

Sebagai langkah selanjutnya, YouTube memiliki rencana untuk memungkinkan otoritas setempat melakukan sosialisasi mengenai vaksin Covid-19 di platformnya.

Facebook Akan Larang Iklan yang Membuat Orang Enggan Divaksin

Petugas kesehatan menyuntik pasien saat simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Petugas kesehatan menyuntik pasien saat simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelum YouTube, Facebook juga sudah melakukan langkah serupa. Facebook akan melarang iklan yang menghalangi orang untuk divaksinasi.

Gerakan ini merupakan kampanye kesehatan masyarakat baru dari perusahaan yang bertujuan untuk menyebarkan informasi vaksin flu.

Perubahan tersebut merupakan kebalikan dari kebijakan Facebook sebelumnya, yang melarang iklan dengan informasi salah tentang vaksin, tetapi mengizinkan iklan yang menyatakan penolakan vaksin jika tidak mengandung klaim palsu.

Namun, perusahaan mengatakan dalam sebuah blog, bahwa mereka masih akan mengizinkan iklan yang mendukung atau menentang undang-undang atau kebijakan pemerintah tentang vaksin, termasuk vaksin Covid-19.

Konten dan diskusi anti-vaksin akan tetap diizinkan untuk ditampilkan secara organik di platform, termasuk di grup Facebook. Demikian sebagaimana dikutip dari Guardian, Rabu (14/10/2020).

Analisis Guardian menemukan keterlibatan dengan unggahan anti-vaksin pada sampel halaman Facebook, melonjak pada musim panas ini.

(Dam/Ysl)