Nawardus rasakan jangkauan upaya inklusi keuangan lewat Kartu Prakerja

Ekosistem digital di Indonesia mengalami perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan berkembangnya berbagai startup atau usaha rintisan hingga kemunculan beragam dompet digital.

Pemanfaatan beragam ekosistem digital tersebut, terutama di sektor ekonomi keuangan juga meluas dari ujung paling barat di Aceh sampai di timur jauh di Papua.

Meski demikian, masih banyak populasi yang belum terjangkau dalam upaya inklusi keuangan untuk membuka akses finansial bagi seluruh masyarakat karena pembayaran digital mayoritas digunakan di kota-kota besar di Tanah Air.

Nawardus Faot termasuk salah satu pihak yang sebelumnya masih belum terjamah inklusi keuangan, bahkan tidak memiliki dompet digital hingga 2021.

Adalah Kartu Prakerja yang mendorong Nadus, nama panggilan akrabnya, memulai penggunaan dompet digital yang terus dimanfaatkannya hingga saat ini.

Kisahnya dimulai ketika berjuang mendapatkan pekerjaan yang sulit dilakukan di masa pandemi. Hal itu mendorongnya untuk mengikuti Program Kartu Prakerja yang diinisiasi dalam periode kedua Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kompetensi kerja di Tanah Air.

Pria berusia 24 tahun itu baru saja lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Antakusuma di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan bingung mencari pekerjaan karena banyaknya pekerja yang dirumahkan atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pembatasan kegiatan masyarakat.

Awal yang sulit membuatnya mengingat cerita kawannya soal program pemerintah yang membantu memberikan pelatihan disertai insentif yaitu Kartu Prakerja.

Dia kemudian mencoba mendaftar daring program tersebut, meski kendala sinyal masih dihadapinya ketika mencoba pendaftaran di kampung halamannya di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Meski terdapat kendala sinyal dan listrik yang sering padam, dia berhasil diterima sebagai peserta Kartu Prakerja di Gelombang 12 pada awal 2021.

"Langsung keterima, padahal sinyalnya susah, memang beruntung sekali," ujarnya ketika ditemui ANTARA dalam acara Kartu Prakerja di Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali pada Senin (14/11).

Mendapatkan dana pelatihan sebesar Rp1 juta, pria berusia 24 tahun itu kemudian memanfaatkannya untuk mengambil pelatihan yang menurutnya dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan seperti penggunaan Microsoft Excel dan Word serta bagaimana menghadapi wawancara kerja.

Tidak hanya pelatihan untuk mendapatkan kompetensi baru, kepesertaan Kartu Prakerja juga membuatnya menggunakan dompet digital untuk menerima insentif.

Dengan keadaan kampung halamannya yang masih sulit mendapatkan sinyal dan listrik yang masih dibangkitkan dengan generator, dia sebelumnya tidak melihat manfaat untuk menggunakan dompet digital.

Berawal dari tujuan untuk menerima insentif, dia kemudian mulai mengulik berbagai hal yang bisa dilakukan dengan penggunaan dompet digital mulai dari pembayaran pulsa sampai dengan membeli token untuk listrik dan berbagai kebutuhan lain.

Baca juga: Ratu Maxima puji peran Kartu Prakerja dorong inklusi keuangan di B20

Baca juga: Kartu Prakerja dorong kewirausahaan perempuan lewat pelatihan daring

Nadus kemudian melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menambah penghasilan dari penggunaan dompet digital, seperti berusaha jual beli pulsa dan berdagang baju.

Hal itu dilakukan ketika dia melihat harga pulsa yang biasa dijual di daerahnya lebih mahal dibandingkan ketika membelinya menggunakan dompet digital.

"Dari situlah saya buat bisnis pakai e-wallet itu, jual-jual pulsa dengan harga yang lebih murah dibandingkan yang lain," jelasnya.

Pemanfaatan itu membuatnya mampu mengembangkan dana insentif yang diterimanya, yang dia gunakan untuk bertahan hidup sambil mencari pekerjaan.

Tidak hanya pulsa, dia kemudian juga berjualan baju yang dipesan melalui platform marketplace dan dibayarkan menggunakan dompet digital yang kemudian dia jual kembali.

Dari insentif dan penghasilan yang didapat dari berjualan, dia mampu menghidupi diri sendiri sebelum akhirnya mendapatkan gaji pertama setelah mendapatkan kerja.

"Lumayan ada pendapatan. Jadi ketika baru dapat kerja masih belum dapat gaji, masih ada sisa dana Kartu Prakerja dan jualan itu pakai untuk hidup buat satu bulan," kata Nadus.

Manfaat dirasakan tidak hanya dari insentif, sertifikat yang didapatnya setelah menjalani serangkaian pelatihan juga berperan penting dalam langkah hidupnya.

Ketika melamar di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di perkebunan sawit di Pangkalan Bun, dia menyertakan sejumlah sertifikat yang didapatnya untuk mendukung CV dan lamarannya.

Hasilnya, Nadus terpilih dari banyak pelamar yang ingin mengisi jabatan sebagai mandor agronomi di perkebunan sawit tersebut.

Faktor keberadaan sertifikat membuatnya memiliki poin lebih dibandingkan pesaing lain, mengingat terdapat bukti bahwa dia sudah melalui pelatihan untuk menggunakan berbagai aplikasi yang mendukung pekerjaannya.

Meski sudah mendapatkan pekerjaan pada Juli 2021 sesuai harapannya, dia tidak berniat berhenti sampai di situ.

Kini dia tengah mengumpulkan modal untuk membuat usaha hidroponik demi membangun agribisnis dengan dasar apa dipelajarinya di perusahaan dan pendidikan yang ditempuhnya.

Dia berencana membangun usaha tersebut di kampung halamannya di Manis Mata, mengingat kebanyakan sayur yang diperjualbelikan di sana berasal dari Pangkalan Bun akibat fokus sawit di wilayah tersebut.

Tidak hanya pengalaman dari pekerjaan, dia juga berencana menerapkan sistem dompet digital yang kini rutin dia gunakan untuk bisnisnya di masa depan.

Dia juga terus mendorong orang-orang di sekitarnya untuk mulai menggunakan dompet digital, baik untuk mempermudah transaksi dan mulai menggunakan sebagai salah satu pos tabungan.

Beberapa sudah mulai menggunakan, seperti sang bunda yang memakainya untuk berjualan pulsa. Tapi ia mengakui bahwa sebagian besar masyarakat di kampungnya masih belum biasa dan punya keraguan.

Nadus menyampaikan bahwa pengembangan usaha menggunakan dompet digital dan berbagai keterampilan yang membantunya mendapatkan pekerjaan menjadi beberapa manfaat yang dia rasakan secara pribadi dari Kartu Prakerja.

Ke depannya, dia berharap Program Kartu Prakerja akan terus berlanjut untuk membantu calon pekerja di Indonesia meningkatkan kemampuan mereka dan memberikan pelatihan yang semakin beragam.

Selain itu, keberadaan Kartu Prakerja diharapkannya juga mampu mendorong inklusi keuangan yang lebih merata mengingat masih banyak masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan di Indonesia.

Baca juga: Kartu Prakerja lakukan inovasi teknologi pastikan lancarnya layanan

Baca juga: Manajemen Pelaksana: 60 persen peserta Kartu Prakerja tinggal di desa