Nazam, Sastra yang Tergerus Titimangsa

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Aceh - Sekitar 1960-an, masyarakat di Aceh masih lekat dengan nazam. Sayang, di zaman kiwari, orang-orang yang hidup pada zaman kejayaan karya sastra itu hanya mampu bernostalgia.

Seorang penerjemah manuskrip, yang kini berumur hampir 70 tahun, T.A. Sakti mengatakan bahwa orang-orang seperti dirinya di zaman ini hanya dapat mengenang nazam. Dengan kata lain, ruang untuk menghidupkan kembali tradisi membaca nazam sudah terlalu sempit.

"Kecuali kalau ada lomba yang hadiahnya besar," ketus Sakti, saat Liputan6.com mewawancarainya via sambungan telepon, Kamis (1/7/2021).

Sakti bercerita bahwa pernah suatu hari peserta lomba membaca nazam di Balai Bahasa membludak dan tidak tertampung. Namun, ia yakin bahwa motif para peserta pasti tergiur oleh hadiah bukan berniat untuk menghidupkan kembali legasi para pendahulu.

Nazam sendiri, menurut Hendra Kasmi dalam Nilai-Nilai Religi dalam Nazam Aceh (2019), merupakan bagian kesusastraan lama yang identik dengan karya religi. Di dalamnya mengandung advis atau petuah moral, terutama berhubungan dengan nilai-nilai keagamaan yang mengutip kitab, hadis, sampai kisah-kisah perjalanan Rasulullah.

Sakral

Manuskrip klasik karya KGPAA Mangkunegara IV yang ditulis menggunakan huruf Jawa.(Liputan6.com/Fajar Abrori)
Manuskrip klasik karya KGPAA Mangkunegara IV yang ditulis menggunakan huruf Jawa.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Nazam hampir sama dengan karya sastra lama lainnya. Dia terikat bentuk, bait, dan irama, seperti syair, pantun, gurindam, dan lain sebagainya, hanya saja, nazam terdiri dari dua belas larik dalam satu bait.

Menurut T.A. Sakti, nazam bertempat sebagai selingan atau bukan menjadi bagian utama. Lazimnya, nazam akan hadir di akhir atau sebagai penutup.

Nazam ada di dalam pengajian, pesta perkawinan, maulid, penyambutan bulan suci, hingga ritual penunaian nazar. Pembacaan nazam boleh jadi akan berlangsung selama 4-6 hari, dengan mengundang seorang ahli untuk membacanya.

Nazam katanya berasal dari para pengembara tanah Arab. Seiring waktu, syair dalam nazam berubah menjadi bahasa lokal, dan selain Aceh, ini juga berlaku di beberapa daerah nusantara.

Karena sifatnya yang sakral, seseorang tidak boleh menulis nazam sembarangan. Biasanya, seorang pembaca nazam mengutip nazam tersebut dari kitab pendahulu.

Akhbarul Na’im

Manuskrip Sana'a di Masjid Agung Sana, Yaman. (Sumber: Wikipedia Common)
Manuskrip Sana'a di Masjid Agung Sana, Yaman. (Sumber: Wikipedia Common)

Salah satu kitab nazam adalah Akhbarul Na’im (Kabar yang Nikmat), sebuah magnum opus dari Syekh Abdussamad atau Teungku Di Cucum. Syekh Abdussamad katanya menulis kitab tersebut pada 1269 hijriah, lalu seseorang bergelar Syekh Andid menyalinnya setebal 385 halaman.

Menurut T.A. Sakti, masyarakat Kabupaten Aceh Besar, khususnya warga berbagai di tiga kecamatan, yaitu Darussalam, Kutabaro dan Krueng Barona, dulu cukup akrab dengan syair-syair dalam kitab Akhbarul Na’im. Kini, wallahualam.

Akhbarul Na’im pada secara garis besar berisi nasihat sepanjang hayat. Berlaku sejak dalam kandungan, lahir ke dunia, usia anak-anak, masa remaja, kawin-mawin, beranak bercucu, berumur hingga ajal menjemput.

Berikut salah satu bait nazam yang menceritakan tentang fase ketika seorang berada di dalam kandungan ibunya sampai ayunan, mengutip Hendra Kasmi (2019):

Leupah that susah watéé mak kandöng. Dari buleuen phön hingga kuluwa. Ban lahéé sinyak neuwa ngon neucöm neuikat ayön neudoda gata, poma meupantön peuayön gata.

Begitu susah ibu mengandung. Dari bulan pertama hingga melahirkan. Ketika lahir beliau peluk dan cium. Memasang ayunan meninabobokan kamu. Ibu berpantun saat meninabobokan kamu.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel