NCPI bersama dua perupa Bali persembahkan lukisan wajah pemimpin G20

Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali berkolaborasi dengan dua perupa setempat mempersembahkan lukisan wajah para pemimpin negara G20 untuk membawa pesan cinta damai kepada dunia dari Pulau Dewata --sebutan untuk Bali.

"Melalui karya lukis wajah pemimpin dunia ini, bagaimana kita dapat turut memberikan spirit, G20 From Bali with Love (Dari Bali dengan cinta)," kata Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha di Denpasar, Rabu.

Seniman I Made Somadita dan I Made Rudita merupakan dua perupa yang diajak NCPI untuk berkolaborasi menghasilkan karya lukis wajah dengan menggunakan teknik watercolor on paper (menggunakan cat air di atas kertas).

"Melalui karya lukis tersebut, sekaligus bentuk kebanggaan, kekaguman, penghormatan kepada para pemimpin dunia yang telah mengikuti KTT G20 di Bali. Tentu kemudian untuk kepentingan dunia lebih aman, lebih damai, dan penuh semangat persaudaraan," ucapnya.

Melalui karya lukisan wajah itu juga menyiratkan pesan dan pengharapan pada KTT G20 yang dilaksanakan di Bali agar solidaritas dapat terus dikumandangkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dengan bingkai perdamaian dunia.

Menurut dia, Bali juga secara spirit memiliki kekuatan untuk bersinergi dan secara bersama-sama mewujudkan tiga fokus dalam pembahasan KTT G20 yakni arsitektur kesehatan global, optimalisasi teknologi digital, dan transisi energi.

Agus menambahkan lukisan wajah para pemimpin negara G20 itu rencananya diserahkan kepada pihak konsulat jenderal ataupun kedutaan besar masing-masing negara.

"Kami sudah bicara dengan perwakilan sejumlah konjen yang ada di Bali dan mereka menyatakan antusias," ujarnya bersama pengurus NCPI Bali Ketut Ngastawa.

Baca juga: Dari Bali untuk dunia, pecalang dengan sukarela turut amankan KTT G20

Perupa I Made Somadita mengaku berbagi tugas dengan I Made Rudita untuk membuat lukisan 20 pemimpin negara yang tergabung dalam G20 tersebut dengan waktu pengerjaan empat hari (5-9 November 2022).

"Melukis dengan teknik watercolor on paper ini termasuk teknik melukis yang paling susah karena ketika sedikit saja ada kesalahan, berarti harus mengulang dari awal. Berbeda halnya ketika melukis di atas kanvas," ucapnya yang telah berpameran ke Belanda, Jerman, Thailand, India, dan sejumlah negara lainnya.

Lukisan yang dibuat di atas kertas seperti yang banyak dijumpai di China, lanjut dia, juga terbukti lebih tahan lama dibandingkan dengan yang dibuat di atas kanvas.

"Kami selaku insan-insan kreatif juga ingin turut berbuat memeriahkan ajang KTT G20 di Bali. Harapan kami, perdamaian dunia dapat terus dikumandangkan. Di tangan-tangan mereka itu, mereka punya kekuatan mau diapakan dunia ini, perang atau damai," katanya.

Somadita yang telah menekuni seni lukis sejak tahun 1998 itu berharap, melalui karya-karya yang dihasilkan dapat membawa pesan cinta damai dari Bali.

Baca juga: Bus Listrik Merah Putih UI ikut sukseskan KTT G20
Baca juga: Presidensi G20 Indonesia lahirkan rencana aksi dengan tujuan konkret
Baca juga: KTT G20 jadi optimisme baru bagi pelaku budaya bangkit dari pandemi

Sejumlah hasil lukisan wajah pemimpin negara G20 yang dilukis Made Somadita dan I Made Rudita, di Denpasar, Rabu (16/11/2022). ANTARA/Ni Luh Rhismawati.
Sejumlah hasil lukisan wajah pemimpin negara G20 yang dilukis Made Somadita dan I Made Rudita, di Denpasar, Rabu (16/11/2022). ANTARA/Ni Luh Rhismawati.