Negara anggota G20 sepakat akan tingkatkan suplai alat kesehatan

M Razi Rahman

Para pemimpin negara dan pemerintahan anggota G20 sepakat akan meningkatkan produksi alat-alat kesehatan yang dibutuhkan untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Para pemimpin sepakat bagaimana memperlancar dan meningkatkan suplai alat-alat kesehatan, di semua negara, di Italia, Eropa, Inggris, Amerika, Indonesia semua kekurangan alat-alat kesehatan termasuk APD (Alat Pelindung Diri), test kit dan ventilator," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis.

Sri Mulyani menyampaikan hal tersebut seusai mendampingi Presiden Joko Widodo yang mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor. KTT yang dimulai pukul 15.00 waktu Arab Saudi atau pukul 19.00 WIB tersebut membahas upaya negara-negara anggota G20 dalam penanganan COVID-19.

"IMF dan World Bank akan melakukan dukungan resources agar perusahaan-perusahaan yang bisa memproduksi bisa dapat prioritas sehingga suplai dari alat kesehatan dari seluruh dunia bisa ditingkatkan. Indonesia juga punya kesempatan untuk menyuplai seperti APD dan hand sanitizer," tambah Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengakui bahwa karena pandemi COVID-19 ini, suplai alat kesehatan mengalami disrupsi dan malah mempersulit penanganan COVID-19.

"Indonesia akan mendukung langkah-langkah perusahaan yang memproduksi alkes tersebut. Kita akan identifikasi perusahaan-perusahaannya, kebutuhan bahan baku dan bagaimana mereka dapat meningkatkan produksinya," ungkap Sri Mulyani.
Baca juga: Dunia akan gelontorkan 4 M dolar AS untuk hasilkan vaksin COVID-19

Salah satu negara yang juga bertekad untuk meningkatkan pasokannya adalah China sebagai negara awal yang mengalami COVID-19 dan saat ini mulai membangun kembali ekonominya termasuk akan mulai kembali memproduksi alat-alat kesehatan.

"RRT (Republik Rakyat Tiongkok) berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas produksi alak kesehatannya dan Indonesia juga akan melakukan peningkatan sehingga memungkinkan terjadinya supply chain sedangkan untuk produk non-kesehatan akan kita lihat trade barrier apa tapi kita sudah melakukan relaksasi moneter dan fiskal dan ini dapat menjadi momentum kerja sama perdagangan dan suplai barang-barang yang penting," jelas Sri Mulyani.
Baca juga: G20 lahirkan "terobosan" kebijakan bantu masalah likuiditas dan kurs

KTT Luar Biasa G20 ini digagas Arab Saudi selaku ketua G20 tahun ini. Ada 20 negara anggota G20, 7 negara undangan, 9 organisasi internasional, dan 2 organisasi regional mengikuti KTT Luar Biasa G20 ini.

Presiden Jokowi dalam KTT virtual tersebut mengajak para pemimpin negara G20 untuk bersama-sama memenangkan dua peperangan yaitu melawan COVID-19 dan melawan pelemahan ekonomi dunia.

Para Kepala Negara/Kepala Pemerintahan yang mengikuti KTT Luar Biasa G20 ini adalah Presiden Joko Widodo, Presiden Argentina Alberto Fernández, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison, Presiden Brazil Jair Bolsonaro, PM Kanada Justin Trudeau, Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri India Narendra Modi, PM Italia Giuseppe Conte, PM Jepang Shinzō Abe, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador, Presiden Rusia Vladimir Putin, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, PM Inggris Boris Johnson, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Uni Eropa Charles Michel.
Baca juga: Menlu: KTT LB G20 bukti kepemimpinan global dalam tangani COVID-19

Untuk diketahui, hingga Kamis (26/3), jumlah positif COVID-19 di Indonesia mencapai 893 kasus dengan 35 orang dinyatakan sembuh dan 78 orang meninggal dunia.

Kasus positif COVID-19 ini sudah menyebar di 27 provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta (515), Jawa Barat (78), Banten (67), Jawa Timur (59), Jawa Tengah (40), Sulawesi Selatan (27), Yogyakarta (16), Kalimantan Timur (11), Bali (9), Sumatera Utara (8), Papua (7), Kalimantan Tengah (6), Kepulauan Riau (5), Sumatera Barat (3), Lampung (3).

Selanjutnya Kalimantan Barat (3), Sulawesi Tenggara (3), Riau (2), Nusa Tenggara Barat (2), Sulawesi Utara (2), Aceh (1), Jambi (1), Sumatera Selatan (1), Kalimantan Selatan (1), Sulawesi Tengah (1), Maluku (1), Maluku Utara (1)

Berdasarkan data dari situs Worldometers, hingga Kamis (26/3) siang terkonfirmasi di dunia ada 491.254 orang yang terinfeksi virus Corona dengan 22.165 kematian sedangkan sudah ada 118.060 orang yang dinyatakan sembuh. Kasus di China mencapai 81.285 kasus, di Italia 74.386 kasus, di Amerika Serikat 68.814 kasus, di Spanyol 56.188 kasus, di Jerman 40.421 kasus.

Jumlah kematian tertinggi bahkan saat ini terjadi di Italia yaitu sebanyak 7.503 orang, disusul Spanyol 4.089 orang, China 3.287 kematian, Iran sebanyak 2.234 orang dan Prancis 1.331 orang. Saat ini sudah ada sekitar 186 negara yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19 di negaranya.

Baca juga: Presiden Jokowi ajak G20 "perangi" COVID-19 dan perlambatan ekonomi