Negara Asia yang lapar minyak menerkam harga rendah untuk persediaan

Singapura (AFP) - Beberapa negara Asia yang lapar minyak mengambil keuntungan dari jatuhnya harga yang disebabkan oleh pandemi virus corona untuk memperkuat persediaan minyak mentah mereka.

Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban tentang cadangan strategis dan pasokan minyak di kawasan itu:

Cadangan strategis adalah persediaan minyak dan bahan bakar lainnya yang dipegang oleh pemerintah dalam fasilitas penyimpanan yang aman guna menutupi gangguan tak terduga terhadap pasokan energi.

Negara-negara berperekonomian besar seperti AS, China dan Rusia mulai membangun cadangan setelah guncangan minyak pada 1970-an, kata avi Krishnaswamy, wakil presiden senior regional untuk energi dan lingkungan pada lembaga konsultan Frost & Sullivan.

Peristiwa yang mendorong mereka mengambil tindakan pada dasarnya adalah Perang Yom Kippur pada 1973 antara Israel dan negara-negara Arab, dan revolusi Iran pada 1979, yang memicu kekhawatiran tentang pasokan.

China diyakini memiliki simpanan minyak terbesar di Asia-Pasifik. Beijing tidak memberikan perkiraan resmi tetapi para analis mengatakan sekitar 550 juta barel. Sebagai perbandingan, cadangan strategis Amerika Serikat saat ini sekitar 630 juta.

China National Petroleum Corporation milik negara mengatakan baru-baru ini bahwa cadangan negara itu "jelas tidak mencukupi, dan belum mencapai standar internasional '90-day safety line'".

Badan Energi Internasional mewajibkan anggotanya memiliki stok minyak darurat setara dengan setidaknya 90 hari impor minyak bersih. China adalah salah satu anggota asosiasi itu, tetapi bukan anggota penuh.

Cadangan minyak Jepang sekitar 500 juta barel pada akhir Februari, setara dengan konsumsi nasional selama lebih dari tujuh bulan, menurut data resmi terbaru, sementara cadangan strategis Korea Selatan adalah sekitar 96 juta barel per Desember 2019, cukup untuk 89 hari.

India, sebaliknya, memiliki cadangan dengan kapasitas penyimpanan sekitar 40 juta barel - yang hanya untuk 10 hari bagi negara dengan penduduk 1,3 miliar orang.

Cadangan strategis disimpan sebagian besar di depot bawah tanah yang aman seperti gua batu alam. Cadangan Minyak Strategis AS, pasokan minyak mentah darurat terbesar di dunia, disimpan di gua-gua garam bawah tanah yang sangat besar di sepanjang Gulf Coast.

Tetapi membangun penyimpanan bawah tanah merupakan tantangan karena perlu memiliki formasi geologi yang tepat, dan negara juga perlu membangun infrastruktur untuk memompa minyak keluar-masuk.

Tingginya biaya membangun cadangan telah menghentikan banyak negara mengembangkannya ke tingkat yang memadai.

Di Asia, India menggunakan gua-gua untuk menyimpan cadangannya tetapi negara-negara lain, seperti Jepang, menempatkannya di tangki di atas tanah.

Australia, yang telah lama memiliki salah satu stok darurat terendah di negara maju, mengatakan akan mengambil keuntungan dari penurunan harga untuk mengembangkan cadangan strategis di Amerika Serikat.

Kapasitas penyimpanan negara itu sendiri sudah penuh tetapi negara ini terikat dengan sebuah perjanjian dengan AS yang memungkinkannya menyewa ruang di Cadangan Minyak Strategisnya.

Di China, Shanghai International Energy Exchange bulan lalu memberikan persetujuan untuk Cadangan Sinopec milik negara guna menambah kapasitas penyimpanan.

Satu depo penyimpanan di provinsi Guangdong selatan dapat menampung hingga 600.000 meter kubik (3,8 juta barel), sementara yang lain di provinsi Hebei utara dapat menampung hingga satu juta meter kubik.

Kementerian Perminyakan India mencuit pada 15 April bahwa dia membeli minyak mentah untuk mengisi cadangannya, disimpan di gua-gua batu, "hingga kapasitas penuh mereka".

Namun, Madhu Nainan, editor publikasi industri PetroWatch, mempertanyakan apakah negara tersebut memiliki ruang penyimpanan yang cukup untuk membangun kapasitas dengan cepat.

"Di India, tangki penyimpanan dan saluran pipa penuh dan tangki dealer penuh," kata dia kepada AFP.

Jepang dan Korea Selatan, dengan cadangan yang cukup, belum mengumumkan rencana membangun cadangan mereka secara substansial.

Seorang pejabat kementerian perdagangan Jepang mengatakan level saat ini sudah cukup, sementara Seoul berencana meningkatkan cadangan kurang dari satu persen tahun ini.

Tampaknya tidak mungkin, setidaknya dalam jangka pendek. Banyak pengamat percaya kegiatan ekonomi tidak akan bangkit kembali dengan cepat dengan lockdown secara bertahap tetapi hanya ketika vaksin untuk virus ditemukan - yang mungkin beberapa saat lagi.

"Harga minyak yang rendah tidak akan memicu pemulihan ekonomi Asia," kata Jeffrey Halley, analis pasar senior OANDA, kepada AFP.

Para importir minyak besar di Asia - seperti China, Jepang, dan Korea Selatan - pada waktu-waktu biasa diuntungkan oleh harga yang rendah tetapi ini tidak mungkin terjadi segera setelah kehancuran ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Di Jepang, misalnya, "kejatuhan harga telah memukul pasar keuangan dengan keras, yang secara negatif mempengaruhi ekonomi Jepang", kata Toshihiro Nagahama, seorang ekonom di Dai-ichi Life Research Institute.

"Kami tidak dapat menerapkan kerangka kerja kami yang biasa untuk periode yang belum pernah terjadi sebelumnya ini."

Walaupun demikina, beberapa ekonom mengharapkan harga minyak tetap rendah untuk jangka waktu yang lama, yang berarti importir besar pada akhirnya dapat muncul sebagai pemenang.

"Harga minyak diperkirakan akan tetap rendah sampai batas tertentu ketika era pasca-corona datang, dan mengingat situasi saat ini, itu akan memiliki efek positif pada ekonomi (Korea Selatan) dalam hal pemulihan," kata Jung Jun-hwan, peneliti Institut Ekonomi Energi Korea.

Ada juga di Asia pihak-pihak "yang jelas kalah" seperti para eksportir minyak Malaysia, Indonesia dan Brunei, kata Halley dari OANDA.

burs-mba/sr/dan/axn