Negara Barat Berpaling Usai Taliban Berkuasa, China-Rusia Menyambut

·Bacaan 2 menit

Banyak negara Barat yang telah menutup kedutaan mereka di Kabul setelah Taliban mengambil alih ibu kota Afghanistan itu, namun sejumlah negara lain masih membuka pintu untuk kemungkinan menjalin hubungan dengan kelompok militan itu.

China mengatakan menyambut kesempatan untuk membangun hubungan mendalam dengan Afghanistan, setelah Taliban menguasai Afghanistan dan akan membentuk pemerintahan.

Kemudian, Rusia mengatakan duta besar untuk Afghanistan, Dmitry Zhirnov, akan bertemu dengan Taliban pada Selasa (17/08) untuk mendiskusikan keamanan kedutaannya yang bakal tetap beroperasi.

Moskow juga telah menyebutkan harapannya untuk mengembangkan hubungan dengan Taliban, meskipun tidak tergesa-gesa mengakui kelompok tersebut sebagai penguasa Afghanistan.

Selain China dan Rusia, Iran secara implisit membuka peluang untuk menjalin relasi dengan Taliban.

Presiden baru Iran, Ebrahim Raisi mengatakan "kegagalan militer" Amerika Serikat di Afghanistan akan memberikan peluang bagi perdamaian yang lebih langgeng di Afghanistan.

"Kekalahan militer Amerika dan penarikan mundur mereka harus menjadi kesempatan untuk memulihkan kehidupan, keamanan, dan perdamaian yang langgeng di Afghanistan," ujar Raisi sebagaimana dikutip stasiun televisi pemerintah Iran.

Sementara itu, sejumlah negara Barat telah memulai rangkaian penerbangan evakuasi dari Kabul.

Jerman, misalnya, memulai mengumumkan penerbangan evakuasi warga mereka dari Afghanistan pada Minggu (15/08) malam. Pada Senin (16/08), pesawat-pesawat militer telah dikirim.

Adapun Inggris telah mengevakuasi 300 orang berpaspor Inggris pada Minggu (15/08).

Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, menargetkan sebanyak 1.500 warga Inggris akan diterbangkan keluar dari Afghanistan dalam kurun 24 jam hingga 36 jam ke depan.

Tanggapan di China

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Beijing siap memperdalam hubungan "bersahabat dan kooperatif" dengan Afghanistan.

"Taliban berulang kali menyampaikan harapan mereka untuk membangun hubungan baik dengan China, dan mereka menantikan partisipasi China dalam rekonstruksi dan pembangunan Afghanistan...kami menyambut ini," kata Hua setelah Taliban merebut kendali wilayah Afghanistan.

Ditambahkan Hua, China "menghormati keinginan dan pilihan rakyat Afghan". Namun, China akan "terus memonitor situasi".

Tidak seperti negara-negara Barat, China mendesak warga mereka untuk tidak keluar dari Afghanistan.

Sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post (SCMP), Beijing tidak punya rencana mengevakuasi staf kedutaan mereka di Kabul. SCMP mengatakan hal ini menandakan kedutaan China "telah berkontak dengan Taliban".

Surat kabar nasional Global Times menyatakan China akan berupaya "mencegah situasi di sana berdampak negatif ke Xinjiang", wilayah otonomi yang berbatasan dengan Afghanistan.

Di China sendiri, situasi di Afghanistan menjadi berita-berita utama dan media memusatkan pada bagaimana rakyat Afghanistan merasa dikhianati oleh Amerika Serikat.

Global Times membagikan tayangan pengunjuk rasa di luar Gedung Putih, Washington DC dan banyak media menekankan bahwa Presiden Joe Biden gagal memperkirakan suasana akan menjadi seperti ini.

Selain itu, juga banyak diskusi mengapa televisi nasional CCTV menyiarkan film Amerika, A Dog`s Way Home hari Senin (16/08).

Global Times mengatakan banyak yang percaya judul film itu menunjukkan bagaimana posisi China dalam melihat langkah AS meninggalkan Afghanistan.

"A dog`s way home (jalan pulang seekor anjing)... Kedutaan AS di Afghanistan sedang jalan pulang," kata seorang pengguna media sosial Weibo.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel