Negara Berkembang Paling Tinggi Adopsi Kripto

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasar negara berkembang (emerging market/EM) tercatat paling banyak mengadopsi aset kripto. Head of Research/Portfolio Manager at Ashmore Asset Management, Herman Koeswanto CFA menuturkan, hal itu seiring dengan lonjakan inflasi, kontrol modal yang lebih ketat, dan prospek fiskal yang memburuk.

"Ternyata yang menarik, negara EM yang justru adopsinya paling tinggi. Karena negara seperti Turki, Brasil, Kolombia, adalah negara yang terkena tekanan devaluasi mata uang mereka karena inflasi sangat tinggi. Maka banyak dari mereka beralih ke kripto,” ujar Herman dalam diskusi virtual, Rabu (29/9/2021).

Sementara untuk Indonesia, diperkirakan saat ini penetrasinya telah mencapai belasan persen. Perkiraan itu berangkat dari data per 2020. Penetrasi di Indonesia sudah mencapai 11 persen.

"Indonesia mungkin sekarang sudah di belasan persen. Karena di 2020, based on statistic, Indonesia angkanya sudah di 11 persen," kata dia.

Devaluasi mata uang adalah ketika otoritas moneter suatu negara dengan sengaja menyesuaikan nilai tukar resmi, mengurangi nilai mata uang. Sementara kripto adalah kelas aset yang muncul sebagai lindung nilai, memberikan perlindungan untuk devaluasi mata uang, likuiditas, dan kenyamanan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Milenial dan GenZ Paling Banyak Pegang Aset Bitcoin

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Sebelumnya, setelah mendominasi investor pasar saham tanah air, generasi milenial dan gen Z rupanya juga tercatat paling banyak memegang bitcoin. Head of Research/Portfolio Manager Ashmore Asset Management Indonesia, Herman Koeswanto CFA menyampaikan, generasi tersebut mendominasi hingga capai 18 persen.

"Ternyata adopsi bitcoin rata-rata anak milenial atau generasi Z (gen-Z). Jadi umurnya 18-30 tahun yang paling banyak pegang bitcoin,” kata dia dalam diskusi virtual, Rabu, 29 September 2021.

Rinciannya, usia 18-34 tahun sebanyak 18 persen. Disusul usia 35-44 tahun sebanyak 12 persen. Usia 45-54 tahun dan usia 55-64 tahun masing-masing 4 persen. Sisanya sekitar 1 persen berusia di atas 65 tahun.

Saat ini, Herman mencatat total penambangan bitcoin mencapai sekitar 21 juta koin. Namun, dari sisi pemiliknya telah mencapai 100 juta owner. Herman menuturkan, hal itu lantaran teknologi blockchain yang memungkinkan terjadinya pecahan desimal hingga pecahan terkecil. Sehingga bitcoin dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau.

"The beauty of blockchain tech memecah bitcoin hingga 8-9 desimal. Jadi orang yang punya modal kecil bisa (beli),” kata dia.

Sebagai gambaran Arif mengumpamakan pemecahan blockchain seperti stock split di pasar saham. Perusahaan melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) saat harga saham sudah dinilai tinggi. Stock split dilakukan dengan rasio tertentu agar lebih bisa dijangkau investor ritel utamanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel