Negara G20 Sepakat Hapus Subsidi Energi Fosil

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota G20 sepakat akan menghapus alokasi subsidi energi fosil yang dinilai tak efektif secara bertahap. Langkah ini diambil untuk mendukung upaya transisi energi sebagai tujuan mayoritas negara di dunia.

Hal ini menjadi salah satu kesepakatan dana pertemuan ketiga tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) di Bali. Ini juga merespons upaya percepatan target transisi energi fosil ke energi baru terbarukan.

"Komitmen kami untuk mengatasi tantangan global yang mendesak seperti perubahan iklim dan perlindungan lingkungan, termasuk keanekaragaman hayati, tetap penting untuk mencapai ekonomi dan masyarakat yang lebih hijau, lebih sejahtera, dan inklusif," mengutip isi dokumen kesepakatan G20 3rd FMCBG, Minggu (17/7).

G20 sepakat mengatur kebijakan yang komprehensif dalam rangka memperkuat upaya global untuk mencapai tujuan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan Perjanjian Paris. Ini juga sejalan dengan komitmen yang sebelumnya diteken di COP26 beberapa waktu lalu.

G20 menegaskan kembali bahwa bauran kebijakan yang dijalankan menuju netralitas karbon dan energi bersih harus mencakup berbagai mekanisme. Di antaranya mekanisme fiskal, pasar dan peraturan, termasuk jika sesuai, penggunaan mekanisme dan insentif penetapan harga karbon.

"Dan menghapus secara bertahap dan merasionalisasi, dalam jangka menengah, subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien yang mendorong konsumsi yang boros dan berkomitmen untuk tujuan ini, sambil menyediakan dukungan yang ditargetkan kepada yang termiskin dan paling rentan, dan sesuai dengan keadaan nasional," tulis lembar kesepakatan tersebut.

Dana Perubahan Iklim

Negara anggota juga menegaskan kembali komitmen yang dibuat oleh negara-negara maju, untuk tujuan memobilisasi pendanaan iklim bersama sebesar USD 100 miliar per tahun pada tahun 2020 dan setiap tahun hingga tahun 2025.

Dana ini untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang, dalam konteks aksi mitigasi dan transparansi yang berarti.

"Pada implementasi, dan kami menekankan pentingnya memenuhi tujuan tersebut sesegera mungkin," tulisnya.

Sejalan dengan semangat transisi energi, G20 turut menyoroti proses transisi energi yang adil dan bisa terjangkau. Termasuk dalam sektor pendanaan yang perlu menggaet sejumlah lembaga internasional hingga sektor swasta.

G20 memuji kemajuan yang dibuat untuk mengatasi Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan G20, yang bersifat fleksibel dan sukarela, yang akan diilustrasikan di dasbor repositori online.

"Kami menyerukan upaya lebih lanjut di seluruh G20, organisasi internasional, jaringan dan inisiatif internasional lainnya, dan sektor swasta, untuk mengatasi tindakan yang diidentifikasi dalam Peta Jalan, dan menyambut masukan sukarela dari anggota untuk menyoroti kemajuan tingkat negara," tulisnya.

Transisi

G20 juga menyambut baik kemajuan dalam mengembangkan kerangka keuangan transisi, meningkatkan kredibilitas komitmen net-zero lembaga keuangan. Kemudian meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan keuangan berkelanjutan, dan mendiskusikan pengungkit kebijakan yang mendorong pembiayaan dan investasi yang mendukung transisi.

"Kami menantikan Laporan Keuangan Berkelanjutan G20 akhir pada Oktober 2022," seperti dikutip.

Anggota G20 mencatat diskusi Forum Presidensi tentang Forum Pengungkit Kebijakan Internasional untuk Investasi Berkelanjutan dan Meja Bundar Keuangan Berkelanjutan G20 untuk Transisi Iklim dan menantikan dokumen hasil Meja Bundar.

"Kami menyambut baik peran sektor swasta yang semakin meningkat dalam mempercepat transisi menuju net-zero dan diskusi tentang Meja Bundar Sektor Swasta Keuangan Berkelanjutan G20."

Reporter: Arief Rahman Hakim

Sumber: Liputan6.com [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel