Negara Maju vs Negara Berkembang, Mana yang Lebih Rentan Resesi?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, negara maju saat ini lebih rentan terkena resesi ketimbang negara berkembang akibat wabah pandemi virus corona (Covid-19).

Hal itu didapatnya berdasarkan data pertumbuhan ekonomi pada kuartal I atau semester I 2020. Seperti diketahui, beberapa negara berkekuatan ekonomi besar kini telah terjerumus ke jurang resesi pada semester pertama tahun ini. Diantaranya Amerika Serikat (AS), Jerman, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong.

Di sisi lain, ada sejumlah negara yang ekonominya tetap tumbuh pada kuartal I 2020. Antara lain Mesir (5 persen), Turki (4,5 persen), China (3,2 persen), Norwegia (1,7 persen), Rusia (1,6 persen), dan Chili (0,4 persen).

Bhima mengatakan, negara berkembang lebih kuat menghadapi resesi lantaran sejumlah faktor. Dia lalu mencontohkan China, yang dapat cepat menangani penyebaran pandemi Covid-19 dengan melakukan lockdown.

"Jadi waktu wabah terdeteksi di Wuhan langsung pemerintah China lakukan lockdown, bahkan diperluas ke kota di provinsi Hubei lainnya. Ini yang buat recovery lebih cepat di kuartal II dibanding negara lain," ujar Bhima kepada Liputan6.com, Sabtu (1/8/2020).

Penanganan di AS Terlambat

Patung The Fearless Girl yang dipasangi masker terlihat di depan Bursa Efek New York selama pandemi COVID-19 di New York, Amerika Serikat, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins, kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)
Patung The Fearless Girl yang dipasangi masker terlihat di depan Bursa Efek New York selama pandemi COVID-19 di New York, Amerika Serikat, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins, kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)

Menurut dia, ada korelasi penanganan Covid-19 yang cepat dan serius dengan pemulihan ekonomi. "Negara maju seperti di AS penanganannya agak terlambat," sambungnya.

Selain itu, ia menambahkan, ada juga faktor di sektor keuangan yang turut berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Bhima mengatakan, kuatnya pasar domestik sangat berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi negara tersebut di tengah situasi krisis pandemi Covid-19.

"Tapi di sisi yang lain tentunya ada faktor struktur ekonomi, dimana China mengandalkan konsumsi domestik juga yang besar. Ada 1.3 miliar penduduk untuk boost konsumsi," terangnya.

Tingkatkan Ekspor

Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Oleh karenanya, ia mengimbau agar Indonesia bisa mengencangkan keran ekspor ke China. Langkah tersebut dinilainya dapat bantu memitigasi Indonesia dari ancaman resesi.

"Misalnya China di kuartal dua justru tumbuh positif 3,2 persen. Artinya demand produk indonesia di China bisa segera pulih lebih cepat dari AS," kata Bhima.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: