Negara-Negara Afrika Barat Ancam Kucilkan Junta Mali

Bamako (AFP/ANTARA) - Blok negara Afrika Barat, Kamis, memberikan ultimatum tiga hari kepada para pemimpin kudeta di Mali untuk memulihkan peraturan konstitusi atau menghadapi pengucilan diplomatik dan ekonomi.

Junta pekan lalu menggulingkan Presiden Amadou Toumani Toure dari kekuasaan dengan mengatakan pemerintahnya "tidak mampu menangani aksi perlawanan suku Tuareg di bagian utara negara itu".

Saat kudeta itu menimbulkan kekacauan di ibu kota Bamako, Tuareg merebut sejumlah daerah dan tentara yang melakukan kudeta itu dikecam masyarakat internasional dan oleh para pemimpin Afrika.

Lima kepala negara dari blok regional yang beranggotakan 15 negara ECOWAS (Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat) Kamis menuju Mali untuk melakukan perundingan mengenai masalah itu dengan para pemimpin kudeta.

Akan tetapi, pesawat mereka pulang ketika puluhan pengunjuk rasa pro-kudeta berkerumun di landasan pacu bandara Bamako.

Delegasi yang terdiri atas presiden Pantai Gading, Burkina Faso, Liberia, Benin dan Niger pulang ke kota Abidjan, Pantai Gading.

Dalam satu pertemuan mendadak, mereka mendesak negara-negara anggota ECOWAS memberlakukan larangan perjalanan bagi para penguasa militer Mali dan mengancam "embargo diplomatik dan keuangan" kecuali ketertiban dipulihkan dalam 72 jam.

Kelompok itu juga membekukan keanggotaan Mali Selasa dan memperingatkan pasukan regionalnya telah disiagakan.

Uni Eropa, Amerika Serikat dan negara lain Barat menghentikan bantuan ratusan juta dolar AS untuk Mali-- kecuali bantuan darurat untuk daerah-daerah yang dilanda kekeringan.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan kecewa atas dilarang mendaratnya presiden Afrika untuk menengahi kembalinya pemerintah yang demokratik.

"Kami mendukung usaha-usaha mereka untuk mengembalikan Mali pada pemerintah sipil," kata juru bicara Deplu Mark Toner. "Mengecewakan mereka tidak dapat mendarat dan melakukan perundingan dengan para pemimpin kudeta."


Para pemimpin kudeta dalam usaha mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, memberlakukan konstitusi yang disusun mereka sendiri. Kendatipun mereka berjanji mereka tidak akan ikut mencalonkan diri dalam pemilu mendatang,tetapi belum ditetapkan tanggal bagi kembalinya demokrasi.

Ketegangan meningkat di Bamako, tempat para pengunjuk rasa pro dan anti-kudeta terlibat perkelahian, Kamis.

Para pemimpin kudeta, yang merebut kekuasaan pada 22 Maret marah pada ketidak mampuan pemerintah mengatasi pemberontakan Tuareg selama dua bulan, karena peralatan militerya yang tidak baik.

Banyak warga Tuareg baru baru ini pulang dengan membawa peralatan militer dari Libya di mana mereka berperang membantu pemimpin Libya Muamar Gaddafi, yang dibunuh itu.

Mereka merebut beberapa kota di utara dalam pertempuran yang menyebabkan lebih dari 200.000 orang dari daerah terpencil mengungsi.

Dalam pertempuran terbaru, para petempur Tuareg menyerang kota penting Kidal.

"Kami diserang gerilyawan ... kami menghalau mereka," kata seorang tentara Mali di kota itu, Kamis.

Tentara yang tidak bersedia namanya disebutkan itu mengatakan Gerakan Pembebasan Nasional Azawad (MNLA) menyerang dari utara sementara paea petempur dari satu kelompok Islam Ansar Dine (Pembela Agama), melancarkan serangan dari selatan.

MNLA pertengahan Januari melancarkan kembali perang puluhan tahun bagi kemerdekaan apa yang dianggap Tuareg tanah air mereka. (rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.