Negara yang Dianggap Mampu Tangani Covid-19 Masih Perang dengan Varian Delta

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati tetap mewaspadai pandemi Covid-19 di dunia. Meskipun terlihat ada penurunan di seluruh dunia tetapi pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

Sri Mulyani bercerita, saat ini beberapa negara masih menghadapi kenaikan kasus varian delta seperti China, Rusia, dan Inggris. Padahal ketiga negara tersebut dianggap mampu menangani kasus Covid-19.

"Negara-negara yang selama ini dianggap mampu menangani Covid, seperti RRT, Rusia, Inggris pun sekarang sedang menghadapi dan ini akan menjadi hal yang membuat kita terus waspada meskipun secara global kasus Covid mengalami penurunan,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Senin (25/10/2021).

Di Indonesia sendiri sebenarnya kasus Covid-19 terus mengalami perbaikan. Hal ini memberikan dampak ke laju pemulihan ekonomi. Percepatan program vaksinasi, kebijakan pembatasan mobilitas. Termasuk upaya penanganan pasien mendorong akselerasi penurunan kasus Covid-19.

“Kasus harian Covid-19 sekarang terendah sejak Juni 2020 yaitu pada tanggal 23 Oktober yang lalu dengan angka 769,” ujar dia.

Lebih lanjut di mengatakan penurunan kasus harian ini diikuti dengan rendahnya kasus aktif total di masyarakat, turunnya kematian harian, turunnya bed occupancy rate (BOR), dan juga positivity rate.

“Ini semuanya adalah hal yang luar biasa bagus karena kalau bisa diakui di seluruh negara di dalam menghadapi Delta varian, mereka tidak selalu cukup efektif dalam waktu yang relatif cepat untuk bisa menurunkan dan mengendalikan kembali, meskipun dengan jumlah vaksinasi yang cukup besar,” tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Program Vaksinasi Dunia

Warga beraktivitas dengan tetap mengenakan masker di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (22/10/2021). Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan selalu mematuhi protokol kesehatan menyusul prediksi bakal terjadinya gelombang ketiga COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Warga beraktivitas dengan tetap mengenakan masker di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (22/10/2021). Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan selalu mematuhi protokol kesehatan menyusul prediksi bakal terjadinya gelombang ketiga COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Bendahara negara ini menyebut pelaksanaan vaksin di Indonesia mengalami kenaikan dan progres yang sangat baik. Suntikan vaksin dosis pertama telah mencapai 112,27 juta atau 41,55 persen populasi. Lalu dangkan vaksin dosis kedua sebanyak 67,17 juta atau 24,86 persen dari populasi.

Sedangkan vaksin booster sebesar 1,1 juta atau 0,41 persen populasi. Sementara itu secara global, jumlah vaksinasi global telah mencapai 6,82 miliar dosis di 184 negara dengan rata-rata 28,6 juta dosis per hari.

“Indonesia dalam hal ini adalah negara keenam terbesar dalam jumlah yang sudah melakukan vaksinasi, baik dosis pertama maupun 2 dosis komplit,” sebut Sri Mulyani.

Dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia beberapa waktu lalu, berbagai negara sepakat pada akhir tahun 2021 minimal sebanyak 40 persen populasi dunia sudah divaksinasi di semua negara. Lalu pada kuartal pertama tahun 2022 diharapkan 70 persen sudah bisa tercapai sehingga herd immunity bisa terjadi.

“Dengan perbaikan langkah-langkah kita di dalam penanganan Covid yang menyebabkan penurunan kasus, maka kita bisa melihat kegiatan ekonomi kita juga mulai menunjukkan perbaikan kembali,” kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel