Negara yang Paling Diuntungkan Saat Harga Emas Anjlok

Liputan6.com, Jakarta : Penurunan harga emas yang mendalam tentu merugikan bagi sebagian pihak. Namun bagi India, anjloknya harga emas justru akan membawa angin segar bagi negara importir emas terbesar dunia tersebut.

Negara ini akan menjadi penerima manfaat terbesar dari penurunan tajam si logam kunis tersebut, menurut perkiraan para analis.

"India hampir pasti menjadi penerima manfaat terbesar dari penurunan harga emas, terutama dampaknya pada transaksi berjalan negara itu," ujar Robert Wandesforde, Direktur Perekonomian Asia di Credit Suisse, seperti mengutip laman CNBC, Selasa (16/4/2013).

Permintaan emas yang luar biasa di India diketahui menyebabkan kenaikan tajam pada kontribusi impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan menjadi 6,7% dari produk domestik bruto dalam tiga bulan terakhir di 2012.

Tingginya tingkat inflasi di negara dengan perekonomian terbesar ketiga di Asia tersebut, di mana emas memberikan kontribusi sekitar 11% dari total impor sepanjang 2012.

Emas banyak digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Hal ini juga terkait dengan budaya tradisional seperti pernikahan dan acara-acara keagamaan yang banyak menggunakan emas di India.

Namun saat ini harga emas tidak berkilau, karena sentimen permintaan. "Lonjakan permintaan impor emas dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar merupakan langkah spekulatif. Ini berarti bahwa dalam kasus penurunan harga, tidak hanya membuat penurunan impor secara nilai tetapi volume bisa juga berkurang," kata laporan ekonom Barclays, Siddhartha Sanyal dan Rahul Bajoria.

Tahun ini, permintaan emas di negeri ini sudah mulai menunjukkan sinyal moderat setelah pemerintah menaikkan bea masuk pada logam mulia tersebut, sebanyak dua kali tahun lalu dan sekali pada bulan Januari 2013.

Impor logam mulia India menurun hampir 24% menjadi 200 ton selama Januari-Maret, dari periode yang sama tahun sebelumnya, menurut laporan Reuters.

Bank memperkirakan harga emas akan terus merosot di kisaran level US$ 1.400 per troy ounce, sehingga nilai impor bersih logam mulai India bisa turun hampir US$ 7 miliar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2014.

Kemudian jika harga emas bertengger di level US$ 1.400 per troy ounce, dan harga minyak di kisaran US$ 100 per barel, akan bisa menghapus sekitar US$ 20 miliar dari defisit transaksi berjalan yang menyempit jadi US$ 66 miliar atau sekitar 3,2% dari pendapatan domestik bruto (PDB) untuk tahun fiskal saat ini.

"Kami juga tidak memperhitungkan penurunan harga logam lainnya, seperti tembaga, paladium, perak, yang dapat meningkatkan manfaat bagi transaksi berjalan," kata mereka. Bersamaan dengan jatuh emas, harga perak juga menarik kembali secara signifikan, menurun 14% selama seminggu terakhir.

Keseluruhan penurunan harga komoditas, jika berkelanjutan, akan meningkatkan prospek pelonggaran moneter lebih lanjut.

"The RBI [Reserve Bank of India] telah meningkatkan pembayaran terkait defisit transaksi berjalan - ada sejumlah hal cukup pada Desember lalu. Jika kita mendapatkan lebih banyak bukti tentang membaiknya posisi perdagangan, dan penurunan inflasi, kita bisa mendapatkan penurunan (rate) pada bulan Juni, " tutur dia.

Rencananya, RBI akan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada 3 Mei, di mana muncul harapan tentang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Pertemuan berikutnya setelah ini diharapkan akan diselenggarakan pada bulan Juni. (Nur)