Negeri Islam Runtuh, Muncul Ciri Orang Bakal Dibunuh Pasukan Taliban

·Bacaan 2 menit

VIVA – Situasi Republik Islam Afghanistan pasca runtuh di tangan pasukan Taliban saat ini benar-benar lumpuh. Seluruh aktivitas masyarakat terhenti.

Di Ibukota Kabul kondisi keamanan tak menentu, ribuan penduduk yang terjebak dan gagal keluar dari kota itu terpaksa memilih bersembunyi guna mengantisipasi tindak kekerasan oleh pasukan Taliban.

Situasi Afghanistan menjadi fokus utama Organisasi Hak Asasi Manusia Dunia, Human Rights Watch (HNW).

Dalam siaran resminya dilansir VIVA Militer, Rabu 18 Agustus 2021, HNW mengkhawatirkan keselamatan warga sipil Afghanistan di tangan Pasukan Taliban.

Menurut HNW, penduduk sipil berisiko tinggi mengalami penganiayaan dari pasukan Taliban, dan harus segera dievakuasi dan mendapatkan perlindungan dari dunia internasional.

Tak cuma dianiaya saja, tapi penduduk sipil terancam dibunuh. Karena selama ini pasukan Taliban memiliki catatan kejahatan kemanusiaan yang tinggi.

"Taliban memiliki catatan panjang melecehkan atau membunuh warga sipil yang mereka anggap musuh, Baik dari dalam atau luar Afghanistan, pemerintah dan kantor PBB harus memberikan perlindungan dan bantuan kepada warga Afghanistan yang berisiko dan menjadikan pemrosesan dokumen perjalanan dan transportasi sebagai prioritas," kata airektur asosiasi Asia di Human Rights Watch, Patricia Gossman.

Dari catatan HNW ada beberapa ciri dan kategori kelompok sipil yang berisiko dibunuh pasukan Taliban. Seperti anggota etnis minoritas, Muslim Syiah khususnya Hazara. Selain itu relawan hak asasi manusia, pekerja asing, wartawan dan akademisi.

Tak cuma diungsikan, penduduk sipil yang berisiko dibunuh Taliban juga tidak boleh dipulangkan paksa alias dideportasi jika mereka sudah terlanjur masuk ke negara lain.

Semua negara harus secara terbuka mengakui bahwa warga Afghanistan yang melarikan diri dari Afghanistan harus diberi kesempatan yang berarti untuk mencari suaka. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara anggota PBB harus meningkatkan bantuan kemanusiaan ke negara-negara tetangga di mana warga Afghanistan melarikan diri dan mendukung negara-negara itu untuk menerima mereka.

"Pihak-pihak yang bertikai di Afghanistan perlu menyadari bahwa dunia sedang mengawasi, dan bukti pelanggaran sedang dikumpulkan. Mereka yang melakukan kekejaman suatu hari nanti dapat berharap untuk menghadapi keadilan atas kejahatan mereka di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional atau pengadilan lain," kata Gossman.

Perlu diketahui, pasukan Taliban berhasil menguasai Afghanistan setelah militer negeri Islam itu tak memberikan perlawanan ketika Ibukota Kabul diserang. Padahal sebelumnya Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANDSF) telah bersiap bertempur habis-habisan.

Baca: Jenderal Intelijen Berdarah Kopassus TNI Ungkap Fakta Pasukan Taliban

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel