Nelangsa Petani Garut, Stok Sayuran Melimpah Harganya Malah Terjun Bebas

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Garut - Memasuki pertengahan bulan Ramadan tahun ini, mayoritas harga sayuran di kabupaten Garut, Jawa Barat, justru terjun bebas. Pasokan melimpah akibat anomali cuaca menjadi penyebabnya.

Asep Buhun (49), seorang pedagang sayur di Pasar Induk Ciawitali mengatakan, penurunan harga mayoritas sayuran tahun ini di luar prediksi petani.

"Perkiraan petani sekarang sudah musim kemarau ternyata hujan masih tinggi," ujarnya, Senin (26/4/2021).

Akibatnya, pasokan sejumlah komoditas pertanian melimpah, hingga menyebabkan harga sayuran di petani terjun bebas menjadi rendah.

"Bahkan kalau sampai murah sekali seperti sawi akhirnya dipakai buat pakan ternak sapi, atau ribiarkan membusuk," kata dia.

Menurut Asep, anomali cuaca yang berlangsung saat ini di luar perkiraan petani. Biasanya menjelang kuartal pertama berakhir, cuaca sudah menunjukan musim kering atau kemarau, sehingga pasokan sayuran mulai berkurang.

"Jika pasokan kurang jelas harga juga bakal mahal atau naik, sejak dari petaninya juga," kata dia.

Namun yang terjadi tahun ini justru sebaliknya, tercatat sejak salam kurun waktu setahun terakhir hingga awal bulan ini di kuartal dua ini, musim hujan masih tinggi hingga pasokan komoditas pertanian melimpah.

"Mau bagaimana lagi, kami semua pasrah, kalau masih ada yang minat meskipun untung sedikit dikeluarkan, kalau enggak ya dibiarkan busuk saja di kebun, sebab berat di ongkos angkut," ujarnya.

Ia mencontohkan harga cabai cengek inul yang sempat menyentuh angka Rp120 ribu per kilogram, kini hanya Rp35 ribu per kilogram.

"Beberapa hari lalu masih di angka Rp45 ribu, kini benar-benar murah," katanya.

Kemudian harga tomat hanya berkisar Rp3 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp6 ribu per kilogram, wortel Rp3 ribu dari sebelumnya Rp6 ribu, timun Rp2.500 dari sebelumnya Rp4.500 per kilogram, kol Rp2 ribu dari sebelumnya Rp4 ribu, buncis Rp2 ribu dari Rp6 ribu.

"Bahkan harga sawi hanya Rp1.000 per kilo dari sebelumnya Rp3 ribu per kilogram," kata dia.

Selain anomali cuaca, kondisi penurunan harga sayuran kali ini dipicu kebijakan pemerintah mengenai larangan mudik hingga penyekatan kendaraan dari dan menuju koa besar.

"Kalau kota besar ditolak sudah jelas barang mereka masuk seluruhnya ke pasar Garut, sehingga pasokan melimpah harga murah," kata dia.

Namun meskipun demikian, ia berharap anomali cuaca segera berakhir, serta kebijakan pemerintah mengenai pembatasan kendaraan, segera dicabut pemerintah, sehingga pasokan komoditas sayuran menjadi lancar.

"Asal permintaan sesuai dengan pasokan harga bakal seimbang, ini sebaliknya permintaan rendah, barang banyak," kata dia.

Simak juga video pilihan berikut ini: