Nelayan binaan Pupuk Kaltim siap penuhi kebutuhan ekspor kerapu

·Bacaan 2 menit

Koperasi Nelayan Bontang Ekonomi Pariwisata dan Maritim (Kopnel BEM) binaan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) siap memenuhi kebutuhan ekspor berbagai jenis ikan kerapu hasil dari program Keramba Jaring Apung.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu, mengaku optimis pengembangan program Creating Shared Value (CSV) di sektor budidaya perikanan laut mampu tercapai secara optimal, melihat produktivitas Kopnel BEM yang berhasil meningkatkan pemasaran dalam memenuhi permintaan berbagai pihak.

Peningkatan produktivitas budidaya kerapu dari Kopnel BEM tak lepas dari pengembangan program Creating Shared Value (CSV) Keramba Jaring Apung yang melakukan pembinaan dan memberi nilai tambah bagi nelayan untuk pengembangan usaha dan kapasitas secara berkesinambungan.

Baca juga: Pupuk Kaltim tingkatkan kapasitas petani binaan sektor hortikultura


Program ini juga merupakan bagian dari komitmen PKT terhadap lingkungan dan ekosistem perairan, melalui peningkatan produktivitas nelayan di tengah potensi perikanan Indonesia yang terbilang besar.

“Hal ini diharap akan mendorong terciptanya kemandirian nelayan Bontang, sehingga saat PKT tidak lagi melakukan pendampingan, nelayan binaan mampu terus tumbuh dan berkembang dari usaha yang dijalani,” kata Rahmad.

Sepanjang tahun 2021, hasil panen kerapu Kopnel BEM mencapai lebih dari 5 ton ditambah juga dengan 500 kg lobster siap konsumsi

Ketua Kopnel BEM Mukhtar mengungkapkan permintaan terdiri dari lima jenis Kerapu, yakni Kerapu Macan, Kerapu Tikus, Kerapu Lumpur, Kerapu Sunu dan Kerapu Cantik. “Totalnya ada 1.248 ekor Kerapu dengan berat berkisar lebih dari 1 ton,” ujar Mukhtar.


Baca juga: Program Makmur Pupuk Kaltim tingkatkan produktivitas 145 persen

Penjualan skala besar sudah kesekian kali dilakukan Kopnel BEM untuk komoditas Kerapu maupun Lobster. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, produktivitas Kerapu Kopnel BEM mencapai 36 ton, atau 1-2 ton untuk satu kali panen. Pencapaian ini diakui berkat pembinaan dari PKT dengan berbagai pengembangan potensi dan perluasan budidaya, yang kini telah direplikasi ke berbagai wilayah pesisir, seperti Bontang Kuala dan Pulau Gusung. “Hasilnya juga sangat dirasakan para nelayan, baik tingkat kesejahteraan maupun produktivitas melaut.
Sejak Kopnel BEM dibentuk, makin banyak nelayan yang bergabung menjadi binaan PKT,” kata Mukhtar.

Program CSV KJA telah berjalan sejak 2016, dengan total nelayan binaan yang tergabung di Kopnel BEM sebanyak 88 orang. Pembinaan tak hanya berupa pendampingan budidaya perikanan, tapi juga penguatan kelembagaan dan kapasitas kelompok, sertifikasi nelayan, hingga manajemen pemasaran yang sebelumnya menjadi kendala utama sektor budidaya di Kota Bontang.


Baca juga: Pupuk Kaltim gelar pelatihan pembuatan dry maggot untuk urai sampah

Baca juga: Pupuk Kaltim tingkatkan daya saing batik lokal melalui pembinaan SNI

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel