Neraca perdagangan RI dengan Rusia dan Ukraina defisit akibat konflik

·Bacaan 2 menit

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia dengan dua negara yang sedang berkonflik yaitu Rusia dan Ukraina mengalami defisit akibat perang yang sedang terjadi.

"Kami ingin menyimpulkan bahwa konflik ini membuat neraca perdagangan kita defisit, di mana defisit terbesar yaitu dengan Rusia," kata Margo saat konferensi pers di Jakarta, Senin.

Margo memaparkan, tiga komoditas ekspor utama Indonesia ke Rusia yaitu lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, serta mesin dan peralatan listrik.

Baca juga: BPS catat neraca perdagangan RI surplus 4,53 miliar dolar pada Maret

Pada Januari 2022, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati RI ke Rusia senilai 102,4 juta dolar AS. Kemudian pada Februari 2022, angkanya menjadi 102 juta dolar AS. Namun, pada Maret 2022 nilainya menjadi 58,3 juta dolar AS.

"Jadi, terlihat sekali komoditas lemak dan minyak hewan/nabati ini akibat konflik jadi mengalami penurunan," ujar Margo.

Demikian juga untuk ekspor karet dan barang dari karet, di mana pada Januari dan Februari 2022 ekspornya mencapai 7,1 juta dolar AS dan 7,3 juta dolar AS, namun pada Maret 2022 angkanya hanya 600 ribu dolar AS.

Hal yang sama terjadi pada ekspor komoditas mesin dan peralatan listrik, di mana pada Januari 2022 angkanya 11,1 juta dolar AS, Februari 2022 sebesar 10,7 juta dolar AS, dan Maret menjadi 2,5 juta dolar AS.

Dengan demikian, neraca perdagangan RI dan Rusia pada periode Januari-Maret 2022 mengalami defisit 204,6 juta dolar AS. Angka tersebut menurun signifikan jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 yang angkanya surplus 42,2 juta dolar AS.

Baca juga: BPS paparkan dampak perang Rusia-Ukraina terhadap perdagangan global

Sementara itu, komoditas ekspor utama RI dengan Ukraina adalah lemak dan minyak hewan/nabati, kertas karton, alas kaki.

"Di bulan Maret ini tidak ada ekspor sama sekali ke Ukraina, yang menunjukkan bahwa konflik ini mengganggu ekspor kita ke Ukraina," ujar Margo.

Dengan demikian, perdagangan RI dengan Ukraina periode Januari-Maret 2022 mengalami defisit 13,5 juta dolar AS. Angka tersebut merosot signifikan jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang angkanya surplus 53,6 juta dolar AS.

"Mudah-mudahan ketegangan semakin cepat selesai sehingga kita bisa cepat memperbaiki neraca perdagangan kita dengan kedua negara," pungkas Margo.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel