Nestapa Mei 98 : Anakku bukan penjarah

MERDEKA.COM. Medio 13 Mei 1998. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, Eten Karyana (32) bergegas bangun dari tempat tidurnya dan langsung beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi. Dia hampir saja telat berangkat mengajar di sebuah lembaga pendidikan.

Kebetulan, ibunda Eten, Ruyati Darwin (65), juga hendak mandi. Mengingat anaknya harus mencari nafkah, dia mengalah dan mempersilakan putra sulungnya itu untuk menggunakan kamar mandi lebih dulu.

Obrolan pagi itu merupakan pertemuan terakhir Eten dengan seluruh anggota keluarganya. Sore, saat kembali ke rumah, keluarga syok, lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga itu kembali dalam wujud serpihan abu dalam kantong plastik dan hanya menyisakan sebuah Kartu Tanda Penduduk serta dompet yang terbakar.

"Saya tidak terima, dia tulang punggung keluarga," kata Ruyati saat berbincang dengan merdeka.com di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat kemarin.

Ruyati langsung membuka kacamata frame hitam yang dia pakai, lalu air mata berderai membasahi pipi keriputnya. Buru-buru, tangan kirinya membasuh tetesan itu. Sambil menarik nafas, Ruyati menceritakan rangkaian demi rangkaian kejadian yang diterima anaknya saat kota Jakarta rusuh 15 tahun silam. Semua sisi kota penuh dengan pembakaran dan penjarahan.

Saat itu sekira pukul 13.00 WIB, Eten baru saja pulang mengajar. Ruyati belum sempat melihat kakak dari Tata Subrata, Adi Aswadi, Dian Mulyaningsih, Lilis Darminingsih serta Cucu Ruyana itu pulang.

Eten merupakan anak pertama dari pasangan Erwin Darwin (75) dan Ruyati Darwin (65). Eten juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Sampai di rumah dia langsung mengganti kemeja dengan kaos, lalu pergi keluar rumah.

Menurut rekannya kata Ruyati, Eten saat itu hendak menolong anak kecil yang terjebak dalam kobaran api Plaza Yogya di Jalan I Gusti Ngurahrai, Klender, Jakarta Timur. Anak itu berteriak meminta pertolongan di tengah ratusan orang yang asik menjarah barang-barang di dalam mal.

Namun saat masuk kedalam, Eten justru tidak bisa keluar. Dia terbakar bersama sekitar 400 korban lainnya yang juga ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Sekujur tubuh korban terbakar dan tidak dikenali. "Dia melihat anak kecil terjebak dalam kobaran api dan hendak ditolong," ujarnya.

Hanya beberapa menit setelahnya, semua mata menatap tayangan langsung stasiun televisi. Salah satunya yang menayangkan kerusuhan Mei di Jakarta itu adalah ANTV lewat program berita Cakrawala.

Sorotan kamera di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) membuat Ruyati terbelalak dan langsung teriak histeris. Sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan kondisi utuh atas nama Eten disebut sebagai salah satu korban terbakar di Plaza Yogya. Klender.

Erwin Darwin, ayah Eten tak kuat menahan syok, dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Dengan pikiran kalut dan masih tidak percaya apa yang terjadi, Ruyati menyuruh menantunya mengambil jasad anaknya ke RSCM. "Saya nonton, jelas banget KTP anak saya ada di TV," tuturnya.

Dari sekitar 400 korban, kata Ruyati, 8 di antaranya diketahui identitasnya. Sedangkan 392 orang tidak bisa dikenali dan diidentifikasi siapa para korban tragedi kemanusiaan itu. Dua orang korban, Madi dan Yadi merupakan satu wilayah dengan Ruyati yang bermukim di Jalan Penggilingan Gg Marzuki No 25 RT 10/RW 01, Cakung, Jakarta Timur.

"Warga Klender ada 60 orang yang kehilangan keluarganya akibat kejadian itu," ujarnya.

Menurut saksi mata yang memberikan keterangan kepada Ruyati, saat kejadian pilu yang memukul keluarganya hingga saat ini, kala itu ada sekelompok orang memprovokasi warga untuk masuk kedalam Mal Yogya.

Mereka lalu menyuruh mengambil barang-barang yang ada di dalam Mal tersebut. Namun saat warga yang terprovokasi masuk, sekelompok orang itu menyiramkan bensin kemudian menyulutnya dengan korek api.

15 tahun sudah kenangan itu tidak bisa hilang dalam ingatan Ruyati dan keluarga. Upaya mencari keadilan terus dilakukan. Kejaksaan Agung sudah ratusan kali disambangi untuk mencari keadilan, siapa yang tega menghilangkan anaknya dalam kerusuhan Mei 98.

Ruyati juga tidak terima soal hasil temuan investigasi yang mengatakan bahwa anaknya termasuk korban karena menjarah. Untuk mengenang dan memperingati para korban, Ruyati bersama dengan keluarga korban lain mengadakan acara setiap tahun di lokasi penjarahan dan pembakaran anaknya di Mal Yogya yang kini berubah menjadi Mal Citra setiap tanggal 13 Mei.

Usai aksi damai di Mal Citra, para keluarga korban Mei 98 kemudian berziarah ke Tempat Pemakaman Umum Pondok Rangon, Jakarta Timur. Pemakaman itu merupakan tempat peristirahatan para korban terbakar kerusuhan Mei 98. "Saya sudah ketemu SBY waktu 2008, sampai saat ini tidak ada kejelasan," tuturnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.