Ngeri, Aksi Jenderal TNI SBY Pimpin Batalyon Paling Garang Saat Perang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 4 menit

VIVA – Jangan anggap remeh sosok seorang Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhono. Tak hanya punya kemampuan dalam hal kepemimpinan, Presiden Republik Indonesia (RI) ke-6 ini juga punya prestasi tempur bersama satuan elite paling garang dalam perang, Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti.

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku otobiografi, SBY Sang Demokrat, dikisahkan bahwa pada 1986 Mayor Inf Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ikut bertempur dalam Operasi Seroja di Timor-Timur. Saat itu, SBY menjadi Komandan Batalyon (Danyon) Infanteri 744/Satria Yudha Bhakti, atau yang kini Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti (SYB).

Tepatnya pada pertengahan 1986, SBY memimpin pasukannya untuk melakukan pertempuran di dua wilayah, Same dan Ailio. Saat itu, SBY yang masih berpangkat Mayor TNI membawa setengah kekuatan Yonif 744/SYB untuk menjalankan operasi tersebut.

Sebagai Komandan Batalyon, SBY memilki taktik jitu untuk menghadapi pertempuran. Ia membagi pasukan yang dibawanya menjadi dua kompi dan satu komando taktis. Dalam perintahnya, SBY menginstruksikan kepada pasukannya untuk melakukan taktik insurgensi, peyergapan dan pengadangan.

"Kita bergerak dengan taktis lewat insurgensi, paduan antara gerakan pembersihan daerah, operasi penyergapan, dan operasi pengadangan," ucap SBY saat memberi perintah kepada para anak buahnya.

Saat operasi memasuki pekan ketiga, pasukan komando taktik Yonif 744/SYB terlibat baku tembak dengan anggota Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor-Leste (FALINTIL). Sebagai pasukan elite, komando taktiks Yonif 744/SYB tak perlu waktu lama untuk menghabisi pasukan musuh di Bukit Turiskai.

Benar saja, hanya beberapa menit kontak tembak, pasukan FALINTIL tercerai berai dan lari tunggang langgang ke dalam hutan. Setelah itu, pasukan SBY pun melakukan penyisiran dan menemukan seorang anggota FALINTIL dalam kondisi luka parah.

***

Perut anggota FALINTIL itu robek sampai ususnya terburai. Melihat ada musuh yang terkapar, pasukan SBY langsung mengerubunginya. Para prajurit Yonif 744/SYB itu sudah geram dan ingin langsung mengeksekusinya. Akan tetapi, Sersan Adolfo Tilman yang memimpin pasukan komando taktis, lebih dulu meminta perintah eksekusi kepada SBY.

Lewat sambungan telepon, Adolfo melaporkan dan meminta perintah untuk menghabisi nyawa sang tawanan perang. Sayang, SBY tidak mengizinkan meski Adolfo terus mendesak. SBY pun memerintahkan Adolfo untuk menyelamatkan tawanan itu. SBY meminta Adolfo untuk memeriksa saku sang tawanan, dan melihat identitasnya.

"Tidak, tawanan jangan dibunuh tapi harus diselamatkan. Coba periksa sakunya, siapa nama tawanan itu," kata SBY kepada Adolfo di sambungan telepon.

Setelah mendapat perintah memeriksa saku-saku sang tawanan, Adolfo menemukan kartu identitas. Dalam kartu identitas itu, terpampang nama sang tawanan adalah Julio Sarmento. Adolfo pun langsung melaporkan lagi perihal nama sang tawanan perang.

"Commandante, nama tawanan itu Julio Sarmento," ujar Adolfo memberikan laporan kepada SBY lagi.

SBY pun bergegas mendatangi lokasi pertempuran di mana sang tawanan perang terkapar. Tahu sang tawanan terluka parah, SBY pun membawa seorang dokter untuk mengobati lukanya. Setelah datang, SBY pun memerintahkan prajuritnya untuk membawa Sarmento ke tempat yang lebih tinggi. Sempat tak digubris, SBY pun memberi instruksi lagi dengan nada tinggi.

"Jangan bunuh, angkat ke atas. Ini perintah saya, angkat ke atas!" perintah SBY kepada para prajuritnya.

***

Sarmento pun mendapatkan pertologan, mulai dari dibawa ke pos perwakilan di Dili hingga diterbangkan ke Jakarta untuk dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. SBY mendapat kabat bahwa nyawa Sarmento bisa diselamatkan.

Bagi SBY, menyelamatkan tawanan memiliki arti yang lebih dibandingkan membunuhnya. Sebab dari tawanan itu, bisa dikorek keterangan perihal posisi hingga kekuatan musuh.

"Alhamdulillah, nyawa Sarmento tertolong," kata SBY.

Aksi SBY menyelamatkan tahanan perang ternyata sampai ke telinga sejumlah pejabat tinggi TNI. Asisten Operasi (Asops) Kepala Staf Umum (Kasum) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Mayjen TNI Edi Sudrajat bersama sejumlah Perwira Tinggi (Pati) TNI lainnya mendatangi Yonif 744/SYB.

Kedatangan Edi tak lain adalah untuk memberi penghargaan kepada SBY dan prajurit Yonif 744/SYB. Ini adalah ganjaran atas tindakan mulia menyelamatkan nyawa tahanan perang.

Ternyata, perintah SBY untuk menyelamatkan nyawa tawanan perang adalah yang pertama kali di satuan Yonif 744/SYB. Hal ini diutarakan oleh Letkol Inf Zacky Anwar Makarim, yang ikut serta dalam rombongan Edi ke Yonif 744/SYB.

"Jenderal, ini pertama kali ada tawanan 744 yang hidup. Kita harus mengucapkan selamat kepada komandan batalyon yang memulai tradisi baik seperti ini," ucap Zacky kepada Edi.

Edi pun menyambut komentar Zacky dengan senang. Mantan Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankan) itu pun memuju SBY, yang memutuskan untuk menyelamatkan nyawa tawanan demi kepentingan pihak TNI.

"Ya, begini seharusnya yang dilakukan batalyon di daerah pertempuran. Ini sesuatu yang baik," ujar Edi memuji SBY.