Ngeri, Ambisi Militer Amerika Gunakan Robot Perang Hampir Berhasil

Febrika Indirawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ambisi militer Amerika Serikat dalam menambahkan unsur robot dalam setiap satuan tempur, tampaknya akan segera terealisasi. Pasalnya Angkatan Darat AS (US Armed Forces) baru saja mengakhiri percobaannya atas kendaraan robot pertamanya.

Selama lima minggu belakangan, satu peleton tentara dari Divisi Infanteri ke-4 telah melakukan percobaan dengan kendaraan tempur Bradley yang dimodifikasi dari kendaraan personel lapis baja M113 sebagai bahan kendaraan tempur robot.

Kendaraan tempur robot ini diuji coba pada medan pertempuran yang kasar di Fort Carson, Colorado dan untuk menguji berbagai teknologi dalam mengendalikan kendaraan robotik, serta bagaimana mengirim mereka sejauh ratusan meter ke depan untuk mencari posisi musuh.

"Eksperimen ini berhasil 100 persen dan tujuan keseluruhannya adalah untuk mempelajari teknologi sekarang dan bagaimana cara kami ingin menguasainya di masa depan," kata Jenderal Ross Coffman, Direktur Tim Fungsional Lintas Kendaraan Generasi Tempur Angkatan Darat AS dikutip VIVA Militer dari Military Jumat 7 Agustus 2020.

Coffman juga mengungkapkan bahwa semua teknologi yang sudah dijalaninya saat ini tidak langsung berhasil bahkan sempat mengalami masalah. Meski sudah berhasil 100 persen, pihaknya masih perlu mengevaluasi kinerja dan potensi kendaraan tempur robotik di medan perang kedepannya.

"Kami punya beberapa pekerjaan yang harus dilakukan dengan sistem stabilitas dan sistem senjata saat para prajurit melintasi medan peperangan,” kata Coffman.

Selain itu, tantangan lain yang akan dihadapi Angkatan Darat Amerika adalah tentang bagaimana kendaraan tampur robotik itu dapat berkomunikasi dengan baik, meski di luar jangkauan sejauh 1 kilometer.

Terlebih lagi, ketika nantinya kendaraan tempur robotik itu memasuki medan hutan yang lebat. Untuk itu, militer Amerika juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk memperluas jaringan komunikasi di berbagai medan tempur nantinya.

“Selain masalah memperluas jangkauan komunikasi, mereka juga akan menghadapi masalah lain seperti adanya peperangan elektronik. Jadi kami harus membuat unit tempur lebih efektif,” ujar Coffman melanjutkan.

Coffman mengakui bahwa teknologi yang tengah dikembangkan saat ini masih belum 100 persen. Tapi Coffman percaya, suatu hari nanti sangat memungkinkan untuk menerjunkan kendaraan tempur tak berawak dalam medan perang sebelum menerjunkan para prajurit. Sehingga, dapat mengurangi resiko kematian para prajurit.

Baca: Pelabuhan Beirut Meledak Dahsyat, Israel dan Hizbullah Memanas