Ngeri, Armenia dan Azerbaijan Bertukar Mayat-mayat Tentaranya

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pemandangan mengerikan terlihat di wilayah Nagorno-Karabakh (Artsakh), saat sejumlah prajurit Angkatan Bersenjata Federasi Rusia (VSRF) mengumpulkan mayat-mayat tentara Armenia dan Azerbaijan di kota Shushi, Sabtu 14 November 2020.

Seperti yang diketahui, Rusia yang menjadi pencetus perdamaian Armenia dan Azerbaijan telah mengirim ribuan personel militernya ke Nagorno-Karabakh. Dalam laporan yang dikutip VIVA Militer dari Azertag, pasukan Rusia menjalankan misi kemanusiaan untuk mengumpulkan dan mengevakuasi jenazah tentara di kawasan tersebut.

Tak disebutkan berapa jumlah jenazah tentara Angkatan Bersenjata Armenia yang berhasil dikumpulkan. Setelah dikumpulkan, sejumlah jenazah tentara Armenia dikembalikan ke otoritas Yerevan untuk diotopsi dan dipulangkan ke keluarganya.

Sementara itu, dalam laporan lain yang dikutip VIVA Militer dari Armen Press, ada enam jenazah yang berhasil diidentifikasi sebagai prajurit Angkatan Bersenjata Azerbaijan.

Aksi kemanusiaan ini dilakukan oleh tentara Rusia yang berstatus sebagai pasukan penjaga perdamaian. Tak hanya itu, upaya ini dilakukan karena sesuai dengan Pasal 8 Perjanjian Damai Armenia-Azerbaijan yang ditandatangani oleh Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertahanan Federasi Rusia dan secara pribadi kepada Menteri Pertahanan, Jenderal Angkatan Darat Sergei Shoigu, atas penyelenggaraan aksi kemanusiaan ini," bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Azerbaijan.

Sejak Perang Armenia-Azerbaijan pecah sejak 27 September 2020, kedua negara telah kehilangan ribuan tentaranya. Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari Reuters, 1.119 orang tentara Azerbaijan tewas dalam perang.

Sementara itu, ada 1.383 orang prajurit Angkatan Bersenjata Armenia dan tentara pemberontak, Pasukan Pertahanan Artsakh, yang tewas dalam konflik bersenjata di Nagorno-Karabakh.