Menyeramkan, 3 Jenderal Ini Mati Tersiksa dalam Perang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 4 menit

VIVA – Tak seorang manusia yang tahu kapan malaikat maut datang mencabut nyawa. Pun di tengah dahsyatnya kecamuk perang. Biasanya prajurit yang gugur berpangkat tamtama, bintara, hingga perwira Menengah. Akan tetapi, faktanya ada perwira tinggi berpangkat jenderal yang justru tewas mengenaskan.

Salah satu nama jenderal yang tewas dalam pertempuran dan diketahui secara luas oleh masyarakat Indonesia adalah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Komandan Brigade 49 Divisi India Angkatan Darat Kerajaan Inggris meregang nyawa akibat luka tembak yang dideritanya, dalam pertempuran di Surabaya 30 Oktober 1945.

Akan tetapi, banyak sejumlah perwira tinggi berpangkat jenderal yang juga menjadi korban kekejaman perang. Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, ada tiga orang jenderal yang tewas secara mengenaskan saat bertugas di sejumlah medan pertempuran.

1. Mayor Jenderal (Anumerta) John Albert Dillard Jr.

Dillard adalah seorang perwira tinggi Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army), yang kenyang dengan pengalaman tempur. Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari BBC, Dillar pernah menjadi komandan pleton hingga komandan kompi dalam Perang Dunia II.

Tak hanya itu, Dillard juga ikut mempertaruhkan nyawa saat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (US Armed Forces) membantu Korea Selatan (Korsel) dalam Perang Korea melawan Korea Utara (Korut). Dillar bahkan menjadi Perwira Operasi Batalyon Divisi Infanteri ke-25 di Korea Selatan.

Akan tetapi, keberuntungan justru tak berpihak kepadanya. Saat berpangkat Brigadir Jenderal dan menduduki jabatan sebagai Kepala Komando Mekanis di Perang Vietnam, Dillard tewas akibat serangan musuh.

Tepatnya pada 12 Mei 1970, sebuah helikopter Bell UH-1 Iroquois ditembak jatuh oleh tentara Vietkong di wilayah Dataran Tinggi Tengah, 16 kilometer barat daya Pleiku, dan 35p kilometer barat laut Saigon. Dillard yang menjadi penumpang helikopter nahas itu, menjadi korban tewas bersama sembilang orang lainnya.

2. Mayor Jenderal Harold "Harry" Greene

Greene memang bukan seorang perwira tinggi yang berpengalaman di pertempuran. Pria kelahiran Boston, Massachusetts 11 Februari 1959 ini masuk ke Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) lewat jalur Kursus Dasar dan Lanjutan Perwira Teknik pada 1980.

Memiliki karier yang mengkilap, Greene mendapat kenaikan pangkat menjadi bintang satu alias Brigadir Jenderal pada akhir 2009. Saat itu, Greene mendapat tugas baru sebagai Wakil Komandan Komando Penelitian dan Teknik Angkatan Darat AS.

Hanya tiga tahun mengklaim titel Brigadir Jenderal, pangkat Greene naik lagi pada 2012 menjadi Mayor Jenderal. Dengan pangkat barunya, Greene juga mendapat tugas baru sebagai Deputi Akuisisi dan Manajemen Sistem Program Intelijen Perang Elektronik dan Sensor.

Pada Januari 2014, Greene dikirim ke Afghanistan. Kala itu, Greene dipercaya menjadi Wakil Komandan Komando Transisi Keamanan Gabungan Afghanistan, selama Operasi Kemerdekaan Abadi.

Baru tujuh bulan bertugas di posisi barunya itu, Greene justru menjadi target serangan seorang tentara Angkatan Bersenjata Afghanistan (AAF). Greene ditembak mati saat mengadakan lawatan ke Universitas Pertahanan Nasional Afghanistan di Kamp Marsekal Fahim Qargha, Kabul, 5 Agustus 2014.

3. Jenderal (Anumerta) Simon Bolivar Buckner Jr.

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "The Ultimate Battle: Okinawa 1945—The Last Epic Struggle of World War II", salah satu momen mengerikan terjadi dalam Perang Pasifik adalah Pertempuran Okinawa.

Pertempuran Okinawa terjadi selama 82 hari, dimulai pada 26 Maret hingga 2 Juli 1945. Sejarah membuktikan bahwa Pertempuran Okinawa adalah serangan amfibi terbesar paling dahsyat di dunia.

Pasukan Angkatan Darat AS ke-10 yang berjumlah 541 ribu personel, berhasil menghabisi pasukan Angkatan Darat Kerajaan Jepang ke-32 yang hanya berjumlah 76 ribu personel. Akan tetapi, kemenangan perang militer Amerika Serikat harus dibayar mahal oleh nyawa sang komandan, Jenderal (Anumerta) Simon Bolivar Buckner Jr.

Saat itu, Buckner menjabat sebagai Komandan Angkatan Darat ke-10 AS yang memimpin 541 ribu pasukan gabungan dengan Korps Marinir AS (US Marine Corps).

Tepatnya pada 18 Juni 1945, Buckner datang ke Pulau Okinawa untuk meninjau pasukannya di medan tempur dengan menggunakan mobil jip komando. Kala itu, pangkat Buckner masih Letnan Jenderal. Oleh sebab itu, di mobil jip yang ditumpanginya ada bendera dengan simbol bintang tiga.

Buckner mendatangi pos pengawasan di depan sebuah Bukit Ibaru, yang hanya berjarak sekitar 300 meter di belakang garis depan. Kedatangan Buckner ternyata diketahui oleh pihak militer Jepang.

Anggota Korps Marinir AS segera mengirim sinyal bahwa posisi Buckner terpantau oleh tentara Jepang, terutama simbol bintang tiga di helm yang dipakainya. Buckner sempat mengganti helmnya dengan helm lain tanpa simbol.

Sayang, tentara Jepang sudah mengetahuinya dan segera menembakkan peluru artileri 47 milimeter. Tembakan itu memang tak mengenai tubuh Buckner, melainkan menghantam batu karang Bukit Ibaru. Pecahan batu karang dengan kencang merobek dada Buckner dan menusuk jantungnya. Buckner pun meregang nyawa seketika.