Ngeri, Helikopter TNI Terjebak Kabut Saat Kirim Bantuan Korban Gempa

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kabar mengejutkan datang dari personel TNI Angkatan Laut yang mengirimkan bantuan untuk korban Gempa Sulawesi Barat (Sulbar). Awak helikopter AS565 Mbe Panther yang sejumlah personel Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan bantuan terjebak kabut di Desa Pompenga, Kabupaten Majene.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), helikopter Anti-Kapal Selam (AKS) AS565 Mbe Panther yang membawa personel Korps Marinir dan bantuan logistik berangkat ke Desa Pompenga sejak Jumat 22 Januari 2021.

Namun demikian, setelah tiba di wilayah yang terisolir itu helikopter justru tak bisa kembali lantaran cuaca ekstrem dan kabut yang menyelimuti.

Oleh sebab itu, awak kapal dan personel Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang mendistribusikan bantuan terpaksa menginap. Hal ini dilakukan lantaran tidak memungkinkannya penerbangan, karena risiko keselamatan.

Wakil Komandan Satuan Tugas (Wadan Satgas) Penanggulangan Bencana Alam TNI AL Sulbar, Letkol (Mar) Gigih Catur Pramono, menceritakan bagaimana kondisi cuaca saat helikopter yang ditumpanginya mendarat di Desa Pompenga.

"Cuacanya saat itu berkabut, sehingga pilot helikopter memutuskan untuk tidak terbang karena sangat beresiko terhadap keselamatan para personel TNI AL yang telah selesai mendistribusikan bantuan logistik di Desa Pompenga, Majene," ujar Gigih.

Setelah dipastikan tidak bisa berangkat kembali ke Kabupaten Majene, Catur dan anak buahnya akhirnya mendirikan tenda dekat dengan helikopter. Satgas Penanggulangan Bencana Alam TNI Angkatan Laut Sulbar memutuskan untuk menunggu hingga cuaca memungkinkan untuk terbang.

"Karena terjebak kabut itulah, akhirnya kami bersama masyarakat setempat mendirikan tenda seadanya di dekat helikopter sebagai tempat kami untuk menginap dan menunggu hingga cuaca baik untuk penerbangan kembali ke Kabupaten Mamuju," kata Gigih melanjutkan.

Sementara itu, Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Alam TNI Angkatan Laut Sulbar, Kolonel (Mar) Rudy Sulistyanto, menjelaskan alasan mengapa pihaknya memutuskan untuk mengirimkan bantuan logistik melalui jalur udara.

Ternyata, jalur darat untuk menempuh perjalanan ke Desa Pompenga tidak bisa dilewati. Ada satu daerah yang aksesnya terputus akibat terjadi longsor.

"Akses lewat jalur darat menuju desa Pompenga terputus akibat terjadinya longsor saat bencana gempa melanda Sulbar. Jadi, pengiriman bantuan logistik harus ditempuh dengan jalur udara dengan menggunakan Helikopter TNI AL sehingga proses pendistribusian bisa berlangsung dengan cepat sampai di masyarakat desa Pompenga," ucap Rudy.

"Namun, saat akan kembali ke Kabupaten Mamuju mengalami kendala yaitu cuaca yang ekstrem. Sehingga, penerbangan ditunda dan para personel TNI AL menginap di desa tersebut," katanya.