Ngeri, Ini Deretan Investor Kakap di Belakang Gojek dan Tokopedia

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Potensi ekonomi digital di Indonesia masih akan terus berkembang pesat hingga 5 tahun mendatang. Riset Google dan Temasek mengungkapkan nilai ekonomi internet Indonesia pada 2020 mencapai US$44 miliar (Rp643 triliun) dihitung dari total nilai penjualan barang atau Gross Merchendise Value (GMV).

Angka itu akan naik 23 persen di 2025 menjadi US$124 miliar (Rp1.812 triliun) GMV, di mana angka tersebut menjadi yang tertinggi di ASEAN. Di belakangnya menyusul Thailand dan Vietnam yang baru akan mencapai US$50 miliar (Rp730 triliun) GMV pada 2025.

Baca: Ngabuburit Lewat Media Sosial

Merger Gojek dan Tokopedia kabarnya akan segera terwujud. Keduanya menargetkan valuasi senilai US$35-40 miliar (Rp511 triliun hingga 584 triliun) dan berpotensi menjadi perusahaan dengan kapitasi pasar terbesar ketiga di Indonesia setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Di bawah keduanya menyusul Bukalapak US$3,5 miliar, Traveloka US$3 miliar, dan Ovo US$2,9 miliar. Saat ini mereka sedang meminta restu pemegang saham resmi dari kedua unicorn Indonesia tersebut, menurut tiga sumber yang dekat dengan aksi korporasi itu.

Lantas, siapa saja investor kakap di belakang Gojek dan Tokopedia? Mengutip situs Nikkei Asia, Sabtu, 10 April 2021, keduanya memiliki kesamaan investor seperti Google dan Temasek, Sequoia Capital India, serta Softbank Group.

Tokopedia juga didukung oleh Alibaba Group Holding Ltd., yang memiliki unit e-commerce sendiri di kawasan tersebut yakni Lazada. Adapun Gojek di antaranya Facebook, KKR, Astra International, Warburg Pincus, dan Tencent Holdings.

Kesepakatan yang sebelumnya disebut-sebut bernilai US$18 miliar atau Rp262 triliun akan menciptakan perusahaan teknologi raksasa yang menawarkan beragam layanan. Bahkan lebih banyak dari rivalnya, Grab.

Mulai dari layanan e-commerce, ekspedisi, transportasi umum, pesan-antar makanan hingga e-wallet atau dompet digital di negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Merger ini juga datang ketika para investor sedang aktif melirik pasar Asia Tenggara yang tengah bergeliat.

Nantinya, pemegang saham Gojek akan memiliki 60 persen saham di entitas hasil merger tersebut. Sementara itu, sisanya 40 persen akan dimiliki Tokopedia. Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa perusahaan rintisan di Asia Tenggara santer dikabarkan akan melantai di bursa saham, seperti Grab dan Traveloka.