Ngeri, Kolonel Kopassus Nyaris Habisi Nyawa Intel Israel

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setiap prajurit TNI yang merupakan anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), memiliki tugas untuk menjaga keselamatan Presiden Republik Indonesia (RI) di mana pun dan kapan pun. Terutama Grup A Paspampres, yng punya tugas pengamanan fisik langsung terhadap Presiden RI.

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Pasukan Pengamanan Presiden, Grup A Paspampres secara detail punya tugas melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat setiap saat, terhadap Presiden beserta keluarganya dan berkekuatan.

Grup A Paspampres sendiri memiliki kekuatan empat detasemen, dan dipimpin oleh Komandan Grup (Dangrup) berpangkat Kolonel TNI.

Sejak berdiri pada 1986, tercatat ada 11 Perwira Menengah (Pamen) Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menduduki jabatan Komandan Grup A Paspampres. 10 orang diantaranya merupakan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat, dan satu lainnya adalah anggota Korps Pasukan Khas (Paskhas).

Salah satu Komandan Grup A Paspampres yang pernah menunjukkan aksi menantang maut adalah Kolonel Inf Sjafrie Sjamsoeddin. Ya, mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya/Jayakarta ini pernah menduduki posisi sebagai Dangrup A Paspampres periode 1993 hingga 1995.

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "Warisan (daripada) Soeharto", ada cerita tentang keberanian sosok seorang Sjafrie.

Tepatnya pada 22 Oktober 1995, Sjafrie ikut serta dalam rombongan Presiden RI ke-2, Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto, saat berkunjung ke New York, Amerika Serikat (AS).

Jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1974 mengawal langsung Presiden Soeharto, yang datang ke Negeri Paman Sam untuk mengikuti pertemuan para pemimpin dunia.

Diketahui, Soeharto yang saat itu menjadi Ketua Organisasi Kerja Sama Negara-Negara Islam (OKI), menginap di Hotel Waldorf, lantai 41. Sebagai Ketua OKI, Soeharto jelas jadi sosok yang berpengaruh di Timur-Tengah. Pasalnya, anggota OKI didominasi oleh negara-negara di Timur-Tengah.

Oleh sebab itu lah, Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin, sangat ingin menemui Soeharto. Singkat cerita Rabin pun menyampaikan keinginannya bertemu dengan Soeharto, dengan cara yang kurang santun.

Para anggota Mossad ini mencurigai Sjafrie dan tidak mau berada satu lift dengannya. Padahal di sisi lain, Sjafrie yang merupakan Dangrup A Paspampres yang telah diperkenalkan dalam Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat itu, Rabin dikawal oleh empat orang pengawal yang diketahui merupakan anggota Dinas Intelijen Israel (Mossad). Keempat pengawal Rabin ini dikisahkan bertindak tak sopan, dan bahkan sempat menodongkan senjata otomatis UZI, ke perut Sjafrie saat itu.

Namun demikian, Sjafrie yang kenyang dengan pengalaman tempur bersama Kopassus tak lantas takluk. Rekan satu angkatan Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo di AKABRI ini ternyata lebih dulu menempelkan ujung pistolnya ke perut anggota Mossad.

"Sorry, I understand it (Maaf, Saya mengerti)," ucap anggota Mossad pengawal Rabin, usai menurunkan senjata otomatisnya.

Meski sempat beradu mulut dan saling menodong senjata, pad akhirnya situasi berangsur mendingin. Rabin pun akhirnya rela menunggu selama 15 menit untuk bertemu dengan Soeharto, setelah diharuskan mengikuti protokol yang ditetapkan Paspampres.