Ngeri, Pasukan Kalajengking TNI Hadapi Pemberontak Kebal Peluru

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak bisa dipungkiri jika pasukan Batalyon Infanteri 312/Kala Hitam (Yonif 312/KH) adalah salah satu pasukan legendaris kenyang pengalaman perang, yang berdiri sejak Perang Revolusi Nasional Indonesia.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, Yonif 312/Kala Hitam sudah berdiri sejak 25 Agustus 1948. Sepanjang 73 tahun eksistensinya, pasukan yang memiliki lambang hewan beracun kalajengking hitam ikut bertempur di berbagai palagan.

Salah satu pertempuran yang pernah dilewati oleh pasukan Yonif 312/Kala Hitam adalah, operasi penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun.

Bukan perkara mudah untuk menghabisi para anggota PKI yang telah melakukan Pemberontakan PKI 1948, mulai 18 September 1948. Meski baru saja terbentuk, Yonif 312/Kala Hitam yang kini berdiri di bawah kendali Brigade Infanteri (Brigif) 15/Kujang II, Komando Daerah Militer III/Siliwangi, sukses menjalankan tugas dengan sempurna.

Akan tetapi, sebuah kejadian mistis sempat dialami oleh pasukan yang saat itu dipimpin oleh Mayor Inf Kemal Idris. Dikutip VIVA Militer dari buku "Perintah Presiden Sukarno: Rebut Kembali Madiun", saat pasukan TNI termasuk Yonif 312/Kala Hitam lebih dulu harus berhadapan dengan sayap militer PKI, Front Demokratik Rakyat (FRD).

Setelah melewati pertempuran, kota Madiun akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasukan TNI tepatnta pada 30 September 1948.

Mengalami kekalahan telak, para anggota milisi bentukan PKI itu banyak yang kabur. Mereka melarikan diri ke sejumlah daerah di sekitar Madiun.

Pengejaran pun dilakukan oleh para prajurit TNI, untuk menangkap dan mengadili para pemberontak itu. Salah satu tempat para milisi PKI bersembunyi adalah Blora.

Suatu ketika, Kemal sang komandan menjadi saksi sebuah peristiwa aneh. Seorang anggota milisi PKI tertangkap di Blora, dan dijadikan tawanan. Setelah tertangkap, anggota PKI yang ta disebut namanya itu malah meminta dieksekusi mati kepada Kemal.

Kemal pun lebih dulu mendatangi seorang Komandan Pleton (Danton), untuk memintanya mengeksekusi sang tahanan. Sang Danton sempat bertanya kepada Kemal hingga akhirnya tampil sebagai algojo anggota PKI yang tertangkap itu.

"Ada apa mayor? ucap Danton anak buah Kemal.

"Itu tawanan minta mati," kata Kemal menjawab pertanyaan anak buahnya.

Tak pakai lama, pistol langsung dicabut sang Danton dari sarung dan langsung menekan pelatuknya. Siapa sangka, pistol Danton tak mau menyala. Padahal, ujung pistol sudah menempel di kening anggota PKI itu. Kemudian, peluru pistol juga terisi penuh.

Sang Danton sempat dua kali mencoba untuk menembakkan pistolnya. Namun, hasilnya nihil. Kebingungan, Danton pun bertanya kepada sang tawanan sampai sang tawanan menjawabnya dengan satu kata.

"Kamu punya ilmu ya?" tanya Danton kepada sang tawanan.

"Tidak," ujarnya.

Saat anggota PKI itu menjawab pertanyaan Danton, peluru pistol akhirnya berhasil dimuntahkan. Peluru pistol sang Danton melubangi kepala anggota PKI, yang beberapa saat kemudian tubuhnya roboh menghujam tanah.

Ternyata, jawaban "tidak" yang diucapkan oleh anggota PKI tadi lah kata kuncinya. Menurut Mayjen TNI (Purn.) Rachwono yang juga menjadi saksi peristiwa itu, sang tawanan sengaja mengucapkan kata "tidak" untuk melepaskan ilmu kebal peluru yang dimilikinya.

Sehingga pada akhirnya, peluru yang dimuntahkan pistol Danton mampu menembus tubuhnya.