Ngeri, Pria Kribo Mati Digranat Prajurit Raider TNI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Berdiri sejak 25 April 1952, Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 330/Tri Dharma punya peran besar dalam sejumlah operasi penumpasan gerakan separatis. Ada salah satu kisah satuan yang dahulu bernama Yonif Lintas Udara (Linud) 330, dalam Pertempuran Jurang Laga, 7 Juli 1995.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, ada seorang sosok gembong gerakan separatis Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) yang sangat ditakuti, Rodak Teki Timur alias Rodak TT.

Nama Rodak sudah terkenal saat pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melancarkan Operasi Seroja di Timor-Timur pada Desember 1975. Rodak dikenal sebagai salah satu pengawal pemimpin Fretilin, Xananan Gusmao, sekaligus komandan pasukan Fretilin sektor Laga, Distrik Baucau.

Singkat cerita, tim khusus Combat Intelligence (CI) Yonif Linud 330 di bawah komando Letnan Satu (Lettu) Inf Tandyo Budi Revita, ditugakan untuk berangkat ke Timor-Timur sekitar Maret-April 1995. Dan salah satu misi yang harus diselesaikan adalah meringkus kelompok separatis Fretilin di bawah pimpinan Rodak.

Setelah tiba di Timor-Timur, tak mudah bagi Tandyo dan pasukannya untuk menemukan sosok Rodak. Meskipun, Tandyo dan anak buahnya kerap terlibat kontak tembak dengan sejumlah anggota Fretilin.

Hingga pada suatu hari, 7 Juli 1995, Tandyo dan anak buahnya yang tengah beristirahat di sisi sungai melihat jejak orang mengambil air. Tak basa-basi, Tandyo langsung menginstruksikan anak buahnya bergerak melacak jejak tersebut.

Tandyo membagi pasukannya menjadi dua tim kecil. Tim pertama diberi nama Sanca yang beranggotakan 10 orang prajurit, dan dipimpin langsung oleh Tandyo. Sementara satu tim lainnya dinamai Kobra berisi dua personel, diberi tugas untuk menjaga basis operasi.

***

Tim Sanca pun bergerak mengikuti jejak. Ternyata, hanya selang beberapa waktu tim ini berhasil menemukan sebuah pos yang menjadi sarang pasukan Fretilin. Baku tembak pun tak terelakkan.

Meski hanya beranggotakan 10 orang prajurit, Tandyo dan anak buahnya berhasil membuat pasukan Fretilin lari tunggang langgang. Meski demikian, ada dua orang anggota Fretilin yang masih bersikeras untuk bertahan.

Mengetahui hal ini, dua anak buah Tandyo, Kopral Dua (Kopda) Samsul Bahri dan Prajurit Satu (Pratu) Ali Fikri, bergerak maju melalui salah satu sisi. Saat kedua prajurit ini bergerak maju, tampak dua orang anggota Fretilin berlari sambil melancarkan tembakan membabi buta. Beruntung, Samsul dan Ali terhindar dari tembakan itu.

Melihat ada dua anggota Fretilin yang melarikan diri ke arah jurang, Tandyo memerintahkan Samsul dan Ali mengejarnya. Sementara, sebagain prajurit lain tetap bertahan untuk bertahan di puncak jurang.

Ali hampir saja menjadi korban tembakan saat seorang pria berambut kribo muncul dan memberondong senapannya. Namun lagi-lagi, Ali lolos dari maut. Ali dan Samsul bahkan terus bergerak maju hingga berjarak sangat dekat dengan pria tersebut.

Pria kribo itu kembali mengarahkan moncong senapannya ke arah Ali dan Samsul. Apes, senapan pria itu macet sehinga gagal menghabisi nyawa Ali. Sontak, Samsul pun menarik Ali dan langsung menembak pria kribo itu dua kali hingga tersungkur. Tak ambil risiko, Samsul kembali menembak pria itu beberapa kali.

Aneh bin ajaib, pria kribo itu ternyata belum mati. Ia masih bergerak-gerak seakan peluru tajam senapan Samsul tidak mampu merenggut nyawanya. Tanpa pikir panjang, seorang prajurit langsung melemparkan granat ke arah pria kribo itu. Ledakan granat membuat pria itu terpental jauh.

***

Setelah pertempuran usai, para prajurit di bawah komando Tandyo menggeledah pos milik anggota Fretilin tersebut. Sejumlah senapan dan ratusan butir peluru berhasil diamankan.

Selain itu, tim khusus Yonif Linud 330 ini juga melakukan proses identifikasi para jenazah anggota Fretilin. Siapa sangka, pria kribo yang tangguh tadi adalah Rodak Teki Timur, komandan Fretilin sektor Laga yang sudah lama dicari anggota TNI.

Sosok Tandyo yang saat itu menjadi komandan tim khusus Combat Intelligence Yonig Linud 330, saat ini sudah menjadi Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat. Dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI, Tandyo saat ini menduduki posisi Direktur Pengerahan Komponen Pertahanan Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan) Kementerian Pertahanan.

Selain terlibat dalam operasi militer di Timor-Timur, Yonif Linud 330 atau Yonif Para Raider 330/Tri Dharma, juga berperan dalam operasi pemumpasan Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI), Operasi Bharata Yudha, penumpasan separatis Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan Gerakan 30 September 1965 yang didalagi Partai Komunis Indonesia (PKI).