Ngerinya Alam Semesta, Terus Mengembang Meski Sangat Sepi dan Sunyi

Lazuardhi Utama, Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Alam semesta adalah kawasan hampa udara atau vakum yang penuh dengan ruang kosong kosmik. Tapi, untuk benar-benar memahami alam semesta yang hampa udara ini, kita harus menyisihkan waktu sejenak untuk memahami apa arti vakum sebenarnya, dan apa yang bukan. Lupakanlah penyedot debu sebagai analogi dengan vakum di luar angkasa.

Jackie Faherty, ilmuwan senior dari Departemen Astrofisika di American Museum of Natural History, New York City, mengatakan kepada Live Science, Rabu, 23 September 2020, bahwa mesin pembersih rumah tangga itu secara efektif mengisi dirinya sendiri dengan kotoran dan debu yang tersedot dari karpet atau sejenisnya.

Artinya, penyedot debu menggunakan tekanan diferensial untuk menghasilkan hisap. Tapi ruang hampa atau vakum adalah sebaliknya. Menurut Jackie, ruang hampa tidak memiliki materi. Sementara alam semesta hampir merupakan ruang hampa absolut, bukan karena terhisap tetapi karena memang tidak ada apa-apa.

Kekosongan itu menghasilkan tekanan yang sangat rendah. Dan meskipun tidak mungkin meniru kekosongan ruang hampa di Bumi, ia bersama para ilmuwan bisa menciptakan lingkungan bertekanan sangat rendah yang disebut vakum parsial.

"Bahkan dengan analogi penyedot debu sekali pun kita pemahaman mengenai konsep vakum ini sebenarnya hampir asing. Karena, sangat kontradiktif dengan bagaimana kita ada di sini (Bumi)," kata Jackie.

Ia melanjutkan, pengalaman manusia mengenai konsep vakum benar-benar terbatas pada bagian yang sangat padat, padat, dan dinamis di alam semesta. "Jadi, sulit bagi kita untuk benar-benar memahami kehampaan atau kekosongan," tuturnya.

Jackie juga menuturkan ruang angkasa akan tetap kosong meskipun tidak memiliki gravitasi. "Tidak banyak benda yang berhubungan dengan volume alam semesta tempat Anda meletakkan benda-benda itu," papar dia.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA menyebutkan kepadatan rata-rata alam semesta adalah 5,9 proton (partikel subatomik bermuatan positif) per meter kubik. Tapi kemudian gravitasi memperkuat kekosongan di wilayah tertentu di alam semesta dengan menyebabkan materi di sana berkumpul.

Pada dasarnya, menurut Jackie, dua benda bermassa apapun akan saling menarik satu sama lain. Dan itulah gravitasi. "Dengan kata lain, material suka berada di sekitar material lain," ungkapnya.

Dengan bersama-sama maka massa kolektif meningkat. Lebih banyak massa berarti bisa menghasilkan tarikan gravitasi yang lebih kuat untuk menarik lebih banyak materi ke dalam rumpun kosmik. "Massa bertambah lalu tarikan gravitasi lalu massa lagi. Itu efek yang tidak terkendali," jelas dia.

Menurutnya, setelah Big Bang terjadi materi di alam semesta tersebar lebih seragam, atau lebih mirip seperti kabut. Namun, selama miliaran tahun, gravitasi telah mengumpulkan materi-materi itu menjadi asteroid, planet, bintang, tata surya, dan galaksi, serta meninggalkan celah ruang antarplanet, antarbintang, dan antargalaksi," kata Jackie.

Kendati demikian, ia bersama para ilmuwan mengatakan jika ruang hampa udara di luar angkasa tidak benar-benar murni. Sebab, di antara galaksi terdapat kurang dari satu atom di setiap meter kubik.

Ini artinya ruang antargalaksi tidak sepenuhnya kosong tetapi memiliki materi yang jauh lebih sedikit daripada ruang hampa yang bisa disimulasikan manusia di laboratorium di Bumi. "Alam semesta terus mengembang meski kedengarannya sangat sepi dan sunyi," papar Jackie.