'Ngeunah Pisan', Sengatan Pedasnya Moring Khas Garut

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Garut - Selain dodol yang lebih dulu beken sebagai makanan lokal kebanggaan warga Garut, Jawa Barat, kini perlahan tapi pasti muncul makanan khas lainnya yang tak kalah ciamik, sebagai makanan oleh-oleh dari Garut, yakni moring.

Moring merupakan akronim dari kata cimol kering. Makanan sejenis keripik renyah tersebut, terbuat dari bahan alami yang mudah didapat di pasar. Sebut saja tepung terigu, tepung tapioka atau tepung singkong, serta bumbu rempah lainnya.

"Biasanya kami jarang menggunakan tepung kanji (aren) sebab kurang begitu cocok," ujar salah satu perajin moring Garut, Tini Rustini, 45 tahun, saat ditemui di pabriknya, beberapa waktu lalu.

Dengan dua rasa utama asin dan pedas, kehadiran moring di atas meja makan atau ruang tamu memberikan alternatif makanan renyah nan sehat, baik sebagai camilan atau pendamping lauk.

Menurut Tini, geliat perajin moring di kampung Sukadana Baru dimulai sejak dua dekade lalu. Saat itu, warga sekitar berharap memiliki camilan khas daerah, yang menyerupai camilan keripik dalam kemasan yang biasa dijajakan di warung milik warga.

"Ayah saya pun mengawalinya demikian, iseng-iseng lihat terus kita coba, dan ternyata peminatnya banyak," ujarnya bungah.

Didukung kreasi emak-emak warga sekitar yang doyan masak, serta melimpahnya bahan lokal seperti tepung tapioka (singkong), menjadikan pengembangan kuliner khas tersebut mudah untuk dimulai.

"Saya sebenarnya bukan yang pertama, namun bisa disebut juga termasuk kelompok yang awal memulai usaha moring di sini," ujar pemilik merek dagang DIVA tersebut.

Tini menyatakan, salah satu kunci sukses pembuatan moring terletak dalam pemilihan bahan yang akan diolah. Selain tingkat kerenyahan layaknya snack pada umumnya, juga rasa gurih atau pedas yang bisa menjadi pembeda dengan lainnya.

"Kalau snack renyah kan banyak, tapi yang asli Garut kan masih belum ada, makanya kami buat moring ini," ujarnya.

Ia mengaku secara umum bahan yang digunakan sama dengan perajin lainnya. Namun, soal rasa, ujar dia, terutama varian pedas, ini yang membuat konsumen ketagihan. "Soal bahannya sebenarnya sama, cuma mungkin pengolahan dirasa morning yang berbeda," ujar dia.

Dengan keunggulannya itu, rata-rata ia mampu menjual ribuan kemasan moring DIVA dalam berbagai ukuran, untuk menjangkau seluruh segmen pasar. "Yang paling besar ada yang 500 gram, yang paling kecil ada kemasan khusus untuk segmen ritel ke pasar tradisional," ujarnya.

Mimpi Kuasai Pasar

Dengan bahan alami serta bumbu rempah yang melimpah, menjadikan moring sebagai salah satu cemilan snack ala Garut, Jawa Barat yang cukup digandrungi kaula muda saat ini. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)
Dengan bahan alami serta bumbu rempah yang melimpah, menjadikan moring sebagai salah satu cemilan snack ala Garut, Jawa Barat yang cukup digandrungi kaula muda saat ini. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Menggunakan merek dagang Moring DIVA yang diambil dari nama anak sulungnya, Tini mengaku bisnisnya mulai dikenal konsumen. "Untuk ukuran UMKM kami yang pertama kali berhasil tembus di toko-toko oleh-oleh Garut," ujarnya bangga.

Bahkan, seiring berjalannya waktu, merek DIVA sudah mulai dikenal luas melalui penjualan online. "Kalau pemasaran biasa produk kami biasa dikirimkan di Bandung, Tasik, hingga Jakarta dan sekitarnya," kata dia.

Bagi Tini, usaha moring memberikan keuntungan berganda. Selain menjadi mata pencaharian keseharian, juga mampu menggerakkan masyarakat sekitar menjadi mitra dagangnya.

Tercatat ada sekitar 7 orang yang ikut bekerja di rumahnya hingga kini, sejak pertama kali mengawali usaha 2005 silam. "Sebenarnya ingin terus bertambah, namun sayang kondisi Corona (Covid-19), penjualan kami agak tersendat," kata dia.

Belum redanya isu Covid-19, membuat ia berhitung ketat untuk menghemat seluruh biaya produksi yang akan digunakan dalam menjalankan roda usahanya. "Maklum rencana kami harus disesuaikan dengan kemampuan permodalan yang kami miliki," ujarnya.

Jika awalnya dalam satu bulan, seluruh pegawai bisa bekerja full 30 hari, tetapi kini akhirnya terpaksa dibagi untuk menghemat biaya produksi akibat menurunnya penjualan. "Sebenarnya kalau produksi masih 500 kilogram sebulan, tapi ritme kerja yang kami ubah," ujarnya.

Meskipun demikian, Tini bersyukur usahanya masih tetap ajeg di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 saat ini. "Kami juga mesti berlomba dengan perajin yang lainnya yang jumlahnya tiap hari terus bertambah," dia menandaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel