Ngopi Kian Populer, Awas Bahaya Tersembunyi Limbah Gelas Kertas

·Bacaan 3 menit

VIVA – Sampah kemasan yang terbuat dari plastik merupakan salah satu yang banyak dihasilkan oleh manusia dan berpotensi mengganggu kelestarian lingkungan. Terlebih, dengan semakin meningkatnya tren ngopi di kalangan kaum muda Indonesia, bukan tidak mungkin, penggunaan gelas kertas yang berlapis plastik akan turut meningkat ke depannya.

Survei yang digelar oleh The Earthkeeper Indonesia terhadap penikmat kopi di Jakarta menunjukkan bahwa 6 dari 10 orang partisipan mengaku mengunjungi coffee shop kesayangannya sedikitnya satu kali dalam seminggu untuk menikmati kopi. Dalam seminggu, mayoritas partisipan mengaku menyumbang setidaknya 1-2 sampah gelas plastik saat membeli es kopi kesukaannya.

"Tingginya jumlah sampah plastik tak terlepas dari gaya hidup masyarakat yang menggunakan plastik untuk mengemas makanan dan minuman. Salah satu industri yang banyak menggunakan kemasan plastik adalah coffee shop," ujar Pendiri organisasi pemerhati lingkungan hidup The Earth Keepers Indonesia Teguh Handoko, dalam keterangan pers "Ngopi Membumi", dikutip Senin 30 Agustus 2021.

Bahaya tersembunyi gelas kertas

Memang, kata Teguh, tak semua makanan dan minuman dikemas atau disajikan dalam kemasan plastik, ada juga yang dikemas menggunakan wadah atau gelas kertas. Akan tetapi, kebanyakan gelas kertas yang beredar di Indonesia saat ini masih menggunakan lapisan plastik.

Teguh menegaskan bahwa terdapat lebih dari 320 miliar limbah gelas kertas di dunia hanya dalam kurun setahun. Padahal, limbah dari gelas kertas sangat sulit untuk terurai.

"Berdasarkan data yang dihimpun, limbah dari gelas kertas ada 320 miliar per tahun di seluruh dunia, hanya kurang dari 1 persen yang bisa di daur ulang," ujar Teguh.

Tak banyak yang tahu bahwa kertas kemasan makanan dan minuman yang saat ini banyak digunakan seringkali mengandung lapisan plastik di bagian dalamnya yang berfungsi untuk menahan air ataupun cairan agar tidak tembus ke kertas. Proses pemisahan kertas dari lapisan plastik memiliki tingkat kesulitan tinggi, karenanya hal ini justru dapat menjadi ancaman lain bagi kelangsungan lingkungan.

"Memisahkan lapisan plastik dengan gelas kertas itu prosesnya sulit sekali dan memakan biaya yang sangat besar, maka kurang dari 1 persen gelas kertas yang pada akhirnya bisa didaur ulang, sisanya menjadi limbah tak teruraikan," tutur Teguh.

Dampak jangka panjang

Teguh bahkan membandingkan bahwa bila 320 miliar limbah gelas kertas dijejerkan, akan membentuk garis lurus sepanjang 25,6 juta kilometer. Menurutnya, jarak itu setara dengan 33 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Mirisnya, jumlah limbah gelas kertas diperkirakan kian meningkat hingga lima persen per tahunnya.

"Plastik sendiri membutuhkan waktu lebih dari 400 tahun untuk dapat terdegradasi, dan itu pun sebenarnya tidak pernah sepenuhnya terdegradasi, melainkan menjadi potongan-potongan kecil yang akhirnya dapat mengkontaminasi kehidupan laut dan membahayakan manusia," kata dia.

Gunakan gelas ramah lingkungan

Tak heran, United Nation Environment Program (UNEP) memprediksi pada tahun 2050 akan ada lebih banyak plastik di lautan daripada jumlah ikan. Untuk itu, diperlukan pencegahan agar tak terjadi penumpukan limbah gelas kertas, seperti yang dilakukan oleh produsen kertas kemasan makanan dan minuman, Foopak Bio Natura, perusahaan kopi Anomali Coffee dan organisasi lingkungan Earth Keepers melalui gerakan #NgopiMembumi.

"Untuk mewujudkan komitmen kami dalam menghadirkan kemasan yang lebih ramah lingkungan, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas menghadirkan inovasi terbaru yaitu Foopak Bio Natura” kata Product Manager - Foopak, Asia Pulp & Paper, Benny Chiadarma pada kesempatan yang sama.

Foopak Bio Natura merupakan kertas khusus untuk makanan minuman yang plastic-free, dapat didaur ulang (recyclable) dan dijadikan kompos (compostable) baik melalui proses industri maupun di rumah. Kemasannya juga terjamin food grade, tahan panas (microwaveable dan ovenable) dan hanya menggunakan bahan kertas berkualitas dari kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang rantai pasokannya juga sudah tersertifikasi baik nasional maupun internasional.

Hanya menggunakan lapisan berbahan dasar air, Foopak Bio Natura memiliki kemampuan untuk didaur ulang tanpa perlakuan khusus. Foopak Bio Natura juga telah terbukti lebih mudah diolah kembali menjadi kertas daur ulang serta lebih cepat menjadi kompos (kurang lebih 12 – 24 minggu) baik melalui proses industri maupun rumahan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel