Ni Made Ari Dwijayanthi Lestarikan Naskah Lontar Lewat Konservasi

Syahdan Nurdin, riaanggri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Naskah lontar merupakan hasil kebudayaan Bali yang diakui dunia. Bagi masyarakat Bali, naskah lontar memiliki arti penting. Naskah lontar memberikan cermin kehidupan kepada masyarakat mengenai hal-hal dalam kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan.

Banyak sekali nilai-nilai positif yang ada di dalam naskah lontar seperti pengobatan, penentuan hari baik, perawatan tubuh, perawatan kecantikan, cara bersikap, dan juga kesehatan. Pentingnya nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah lontar ini membuat Ni Made Ari Dwijayanthi atau yang akrab disapa Ari, menaruh perhatian lebih pada naskah lontar yang beredar di masyarakat.

Ari lahir di Bali tepatnya Tabanan, 21 Agustus 1988. Ari menamatkan kuliah Sarjana Sastra Jawa Kuno/Kawi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana tahun 2010. Melalui program beasiswa Bakrie Graduate Fellowship dari Bakrie Center Foundation, ia mampu menamatkan kuliah Magister Humaniora bidang Sastra Jawa Kuno, Universitas Udayana tahun 2014.

Ari telah melakukan konservasi naskah-naskah lontar sejak 2008 hingga sekarang. Dia menilai masyarakat terlalu sibuk menyakralkan lontar hingga lupa untuk merawatnya.

“Karena lupa merawat, mereka lama-lama tidak tahu apa isinya dan aksara yang digunakan. Apalagi belakangan sudah tidak banyak orang yang menguasai aksara Bali,” kata Ari yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja.

Sebelum melakukan konservasi lontar yang ada pada warga, Ari biasanya melakukan pendekatan secara personal terlebih dahulu kepada pemilik lontar. Dibutuhkan kunjungan berkali-kali oleh Ari untuk meyakinkan warga agar menyerahkan lontar warisan lelulur mereka untuk dirawat.

Dalam melakukan konservasi lontar, Ari tidak melakukannya seorang diri. Biasanya, dia akan mengajak anggota keluarga pemilik lontar untuk turut melakukan konservasi.

“Selain mengajak anggota keluarga tersebut, saya juga sekaligus memberikan edukasi kepada mereka bahwa lontar ini harus diselamatkan,” kata Ari.

membaca lontar
membaca lontar

Ari juga mengajak kerabat-kerabatnya dalam melakukan konservasi dan melestarikan warisan nusantara tersebut. Sekitar 12 tahun sudah dilakukan. Hasilnya, sekitar 1.000 judul lontar berhasil diidentifikasi bersama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui Penyuluh Bahaa Bali dari tahun 2016.

“Yang dibaca ada ratusan. Yang dilakukan bisa dicopy oleh teman-teman lain yang mencintai naskah dan bisa dilakukan secara massif. Tidak hanya untuk dibaca saja tapi juga bisa diaplikasikan. Seperti naskah-naskah husada (kesehatan),” kata Ari.

Ari menjelaskan dalam menginterpretasi lontar perlu pengetahuan dari cabang ilmu lainnya. Jika naskah tentang kesehatan maka perlu konsultasi dengan dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya. Interprestasi juga disesuaikan dengan perkembangan zaman agar dapat diimplementasikan.

Ke depannya, Ari berharap konservasi lontar tetap berlanjut dan semakin banyak generasi muda yang mengerjakannya.